Senin, 26 Oktober 2009

Pendidikan Anak (1); TANAMKAN AQIDAH

Semua orang tua pasti menghendaki anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Aneh, jika ada sepasang suami istri yang dkaruniai anak kemudian mereka membiarkan anaknya begitu saja. Atau mereka menyerahkan pertumbuhan dan perkembangan anaknya alakadarnya. Ya, asal hidup saja. Hal seperti itu tidak mudah kita dapatkan dalam kehidupan ini. Jadi dapat disimpulkan 99,99% orangtua yang ada di muka bumi ini memiliki cita-cita yang luhur atas anak-anaknya. Sahabat Ali r.a. menyatakan, "didiklah anakmu karena ia diciptakan untuk sebuah zaman yang berbeda dengan zamanmu".

Cita-cita luhur apa gerangan yang dimiliki oleh orang tua atas putra putrinya, yang karena cita-cita itulah setiap orangtua mengarahkan anaknya. Segala macam cara mereka lakukan demi cita-citanya. Apapun mereka tempuh demi cita-citanya. Pertanyaannya adalah, benarkah para orangtua menyadari cita-citanya itu? Atau, ah pokoknya ingin punya anak saja, titik.

Setelah kita sedikit merenung atas pertanyaan di atas, katakanlah sekarang, semua orangtua menyadari cita-cita atas kelahiran anak-anaknya. Dan memang seyogyanya begitu. Nah, pertanyaan berikutnya adalah, apakah gerangan cita-citanya itu? Adakah cita-cita itu sama? Wah, pertanyaan ini gampang-gampang susah untuk dijawab. Disebut gampang, karena pasti ada kesamaan cita-cita yang umum dimiliki para orangtua. Disebut susah, karena kita sadar bahwa jangankan orang yang berbeda latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan dan sebagainya, bahkan pada orang yang kembarpun, tetap saja fikiran dan perasaannya berbeda. Jadi ya pasti variasi cita-cita orangtua sangat sulit diterka. Mungkin ada ada orangtua yang punya cita-cita, kalau anaknya besar kelak, ia berharap anaknya jadi dokter. Yang lain berharap anaknya jadi orang kaya, ada juga yang berkehendak anaknya jadi pilot, ada juga yang bercita-cita anaknya melanjutkan perjuangan hidupnya baik jadi pedagang (kalau ia seorang pedanga), jadi guru, jadi petani yang sukses, jadi pegawai negeri, dan sebagainya.

Sukses, inikah cita-cita para orangtua atas anaknya? Nampaknya iya. Lalu, sukses dalam hal apa? Oh, sukses dalam kehidupan anaknya? Bentuknya apa? Nah, ditanya bentuk mah, kita agak bingung walaupun mudah menjawabnya. Jawabannya, sukses dalam meraih kekayaan materi sehingga hidup senang di dunia. Jadi, setiap orangtua ingin, anaknya hidup senang, kaya raya, tidak miskin, tidak melarat dan tidak menderita.Bagaimana, apakah anda setuju?? Benarkah dengan kekayaan, pasti hidup akan senang, tidak ada sedih, tidak ada amarah, tidak ada kecewa, tidak ada risau, tidak ada putus asa, tidak ada derita dan tidak ada sesal?

Ah, nalar kita tidak berani menjawab "YA" apalagi dijawab dengan lantang dan berapi-api. Coba saja renungkan. Benarkah kekayaan/materi menjamin semua kesenangan kehidupan dunia? Benarkah semua kesenangan dapat dibeli? Aha, ternyata masih belum cukup jika sukses hanya diukur dari terkumpulnya sejumlah kekayaan. Ada aspek immateri yang mesti diperjuangkan sehingga kesuksesan itu utuh menyeluruh, seimbang dan tidak pincang (lihat Q.S. Al-Baqarah:201).

Untuk memberikan keseimbangan itu, Islam menawarkan pondasi yang kuat dalam mendidik anak. Hal pertama yang dilakukan adalah tertanamnya aqidah bagi anak. Dalam Al-Quran Surat Lukman ayat 13, Allah SWT berfirman yang artinya "dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Tuh, jangan mempersekutukan Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar