Selasa, 27 Oktober 2009

SHILATURRAHMI

Shilaturrahmi adalah sebuah kata yang tidak asing di telinga kita. Begitu banyak orang mengenal tentang kata ini sebagai suatu perilaku baik yang berhubungan dengan kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan dalam persahabatan.

Shilaturrahmi adalah sikap di mana seseorang ingin menyelamatkan fihak lain. Ia merupakan bukti dari kasih sayangnya kepada fihak lain. Shilaturrahmi diartikan sebagai menyambungkan kasih sayang Alloh kepada seseorang yang diajak bicara atau dituju. Oleh karena itu, ia tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Ia adalah perbuatan yang dapat dilakukan kapan saja, di mana saja dan kepada siapapun, termasuk kepada mereka yang telah tiada.

Seseorang yang hidupnya dipenuhi dengan sikap silaturrahmi akan senantiasa memandang bahwa kehidupan harus terus berlanjut bersama-sama disertai keindahan suasana. Tujuan hidupnya adalah ingin menyelamatkan orang lain karena Alloh S.w.t. telah mencurahkan rohmat-NYA kepada orang yang ditujunya itu. Dimulai dari sucinya hati, jernihnya fikiran, santunnya lisan, indahnya perangai dan benarnya tindakan kesemuanya mempribadi dalam jiwa dan raganya. Kehadirannya menjadi idaman setiap insan, keberadaannya menambah ketentraman pergaulan dan hidupnya dipenuhi oleh amal soleh nan tulus ikhlas tanpa mengharap balas.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.S. Ali-Imran : 159)

Boleh jadi ia bernada keras namun tetap bernuansa menyelamatkan. Boleh jadi ia berkata tegas namun tetap bertujuan untuk keselamatan. Bahkan, mungkin dia berperilaku “kaku” namun justru demi keselamatan. Selama seseorang itu telah memiliki sikap shilaturrahmi maka boleh dikatakan seluruh tindakan tidak dipengaruhi oleh egoitas dan hawa nafsunya namun justru karena kasih sayangnya kepada sesama.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya… (Q.S. Al-Fath : 29)

Ia memandang bahwa kehidupan adalah perseorangan walaupun dalam satu kesatuan, baik di keluarga, masyarakat maupun dalam suatu bangsa. Ia menyadari, bahwa seluruh yang ada di luar dirinya adalah takdir Alloh yang ditampakkan baginya sebagai ujian.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S. Al-Mulk : 2)

Ia sadar bahwa kehidupan dunia akan berakhir dan pada saatnya nanti, ia akan berhadapan dengan pengadilan Robbul ‘Izzati. Pengadilan di mana ia harus mempertanggungjawabkan seluruh anugrah Alloh kepadanya pada saat ia hidup di dunia.

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada adzab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan shalat. Dan barang siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah kembali (mu). (Q.S. Faathir : 18)

Oleh karena itu, kehadiran apapun yang menyertai hidupnya akan dipandang sebagai sesuatu yang harus menghadirkan nilai ridlo-NYA.

Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. (Q.S. Al-Baqarah : 138)

Kaum Muslimin yang berbahagia,
Ramadhan, kini telah datang dan al-hamdulillah kita berkesempatan untuk menuai jamuan Alloh S.w.t. Melalui Ramadhan Alloh menarik seluruh manusia untuk mendekat kepada-NYA. Melalui Ramadhan nampak pada kita suasana di mana semua kita saling menjaga dan begitu bersemangat untuk saling membantu dalam rangka meraih ampunan dan rahmat Alloh S.w.t.
MAN SHAAMA ROMADLAANA IIMANAN WAHTISAABAN GHUFIRALAHUU MAATAQADDAMA MINDZAN-BIHI (H.R. Al-Bukhary)
Hadits yang menyiratkan akan diperolehnya ampunan Alloh S.w.t. bagi mereka yang melaksanakan ibadah shaum dengan dua syarat yakni karena iman dan melakukan hubungan yang baik dengan manusia.
Sepanjang Ramadhan ini, hampir seluruh muslim mampu menampilkan cahaya keberimanannya dalam bentuk amal soleh. Semangat membaca, memahami dan mengamalkan Al-Quran menghiasi perilaku muslimin. Setahap demi setahap kesadaran ini muncul bagaikan panggilan hati yang memiliki kecenderungan ingin berbakti dan menghiasi hidup dengan ibadah. Kaana hayaatunaa kulluha ‘ibadatan; Kesiapan membatu fihak yang lemah, keinginan berkorban demi risalah, kesigapan fikiran untuk menangkap ilmu yang berkaitan dengan al-Islam, terkendalinya amarah dan hawa nafsu, dan kesibukan mengisi waktu dengan segala sesuatu yang baik dan bermanfaat. Belas kasih terhadap sesama, kasih sayang terhadap saudara seagama, perhatian terhadap dakwah Islam dan semangat terhadap kemajuan al-Islam menyatu dalam pribadi muslim yang semua itu dengan mudah hadir dalam sikap dan tindakan kita, padahal hal itu teramat sulit untuk dilakukan dan muncul di bulan selain Ramadhan.

Ramadhan menjadi bulan yang dipenuhi dengan semangat shilaturrahmi. Ramadhan mengajarkan kepada kaum muslimin untuk meninggalkan praktek-praktek yang tidak mengarah kepada keselamatan. Kezhaliman, putus asa, amarah, rakus, tamak, sombong, angkuh, kikir, dan segala sikap dan tindakan tercela, semuanya bertolak belakang dengan semangat shilaturrahmi.

Oleh karena itulah, suasana ‘idul fithri sebagai “ajang” shilaturrahmi, seyogyanya ditampilkan dalam bentuk shilaturrahmi yang benar. Dia bukan sebentuk ungkapan, bukan jabatan tangan, bukan pula kunjungan, namun ia adalah kesungguhan hati untuk secara tulus mengharapkan keselamatan bagi semua orang yang dijumpainya. Dia menjelma menjadi pribadinya di sebelas bulan berikutnya.

Inilah tugas berat selepas Ramadhan. Akankah kita konsisten dalam memperhankan semangat shilaturrahmi. Ihdinash shiraathal Mustaqiim …
Mudah-mudahan, Allah S.w.t. memberikan kekuatan kepada kita untuk tampil sebagai hamba yang pandai bershilaturrahmi dengan benar. Aamiin.

Wallahua’lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar