Maha Besar Allah, Dzat Yang tiada henti mencurahkan nikmat tanpa perhitungan kepada segenap makhluk. Dzat Yang kepada-Nya akan kembali seluruh makhluk. Sehingga tak layak bagi seorang takabur dalam bentuk kemalasan menghambakan diri secara utuh, total di sepanjang hayat KAANA HAYAATUNAA KULLUHAA ‘IBADAH. Pada saat yang berbahagia ini, wajib kiranya kita panjatkan syukur atas semua yang telah Allah SWT berikan kepada kita selama ini. Suka duka dan pahit manisnya kehidupan tidak lebih sekedar ujian dari-Nya yang bertujuan untuk melihat siapa diantara kita yang paling baik amalnya LIYABLUAKUM AYYUKUM AHSANU ‘AMALA. Barangkali kita pernah letih atas berbagai kesulitan hidup yang kian hari kian menguras tenaga dan fikiran yang mungkin pula sedikit demi sedikit mempengaruhi, mengurangi atau bahkan na’uudzubillah dapat merusak iman.
Di saat kehidupan berbangsa dan bernegara yang bergolak diiringi dengan beragam persoalan yang tidak kunjung padam kita khawatirkan satu hal yang justru bakal mengusik keberagamaan kita. Kita khawatir akan perubahan sosial yang tidak terkendali yang eksesnya terasa dalam kehidupan keluarga bahkan kehidupan individu. Bahkan kerusakan dan bencana alam yang akhir-akhir ini menimpa beberapa saudara-saudara kita baik meletusnya gunung, bencana alam banjir dan terjadi longsor semua itu menambah rumit persoalan yang kita hadapi. Akankah semua ini dapat dilalui dengan selamat dengan mendulang berkah Allah SWT. Kita khawatir kesulitan-kesulitan itu tidak mempengaruhi nilai penghambaan kita dihadapan Allah SWT, kita khawatir iman tak beranjak naik, bahkan kita khawatir mendapat dosa dari kesulitan-kesulitan itu. Do’apun kita layangkan keharibaan Allah, Dzat yang selama ini selalu kita anggap sebagai sumber penyelesaian masalah, Dzat yang selama ini kita anggap sebagai penolong segala persoalan, Dzat yang selama ini kita agungkan melalui ibadah ritual, namun kesulitan tidak pula berakhir, ketenangan yang hakiki begitu sukar dimiliki.
Melalui Hari Raya ‘Iedil Adha setiap tahun kita diingatkan akan sosok Ibrahim a.s. beserta keluarganya. Ujian hidup yang dialaminya, boleh jadi lebih berat jika dibandingkan dengan yang kita rasa selama ini. Hidupnya senantiasa dihiasi dengan persoalan-persoalan yang pedih, letih, mencemaskan dan bahkan membahayakan jiwa raganya. Dialah, Nabi yang menentang ayahnya si pembuat berhala. Dialah, Nabi yang dibakar hidup-hidup oleh kaumnya. Seorang yang bercita-cita memiliki anak yang menjadi penerus perjuangannya. Nabi yang dengan sabar terus mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam do’a-do’anya. Nabi yang dengan “tega” menyembelih anaknya sendiri. Nabi yang benar-benar berserah diri kehadirat Rabbul ‘izzati. WAIDZIBTALAA IBRAAHIIMA RABBUHUU BIKALIMATIN FA-ATAMNAHUNNA
“Dan ingatlah ! Ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan). LALU IBRAHIM MENUNAIKANNYA” (Q.S. Al-Baqarah : 2).
Ibrahim adalah seorang yang teguh dalam menegakkan kebenaran al-hanif dan memperjuangkannya dengan cara yang benar pula. Ibrahim tidak mencampuradukkan perjuangannya dengan kemusyrikan, kebatilan dan kesalahan –kesalahan lainnya yang merugikan bahkan dapat mencelakakan fihak lain walaa talbisul haqqa bil baathil. Dia kendalikan hawa nafsu, egoitas, kepicikan, kelicikan dan kemunafikan dalam dirinya karena dia sadar bahwa segala apa yang ada di dunia adalah milik Allah. Apapun kesulitan hidup yang dialaminya dikemasnya sebagai kenikmatan dan kasih sayang dariNya. Rasulullah SAW bersabda “tidak semata-mata Allah memberikan musibah kepada seorang hamba, kecuali Allah akan memberikan derajat yang tinggi kepada hambanya itu atau Allah akan mengampuni dosa-dosanya”.
Tauhid menjadi visi dan misi Ibrahim a.s. dalam hidupnya. Keyakinan akan eksistensi Dzat Tuhan begitu melekat dalam jiwanya. Sejak remaja hingga tua renta, tauhid inilah yang menjadi penawar rindu, penyelamat jiwa dan raga serta pembuat ketegaran bersikap dan beraktivitas dalam masyarakatnya. Tauhid pulalah yang menjadi didikkan utama dalam keluarganya. Laa tusyrik billaah. Ibrahim a.s. ialah seorang ayah yang menyinari keluarganya dengan nilai-nilai uluhiyah, nilai yang mengajak serta seorang untuk secara total berserah diri kepada Penguasa, Pemilik dan Pemelihara Segala makhluk, Allah swt. Kepasrahan akan qudrat dan iradat Allah swt terpancar dari istri dan anaknya. Betapa peristiwa Qurban adalah bukti ketawakkalan mereka. Peristiwa yang sangat terkenal yang menyebabkan kita saat ini berkumpul dan beramal. Seperti yang tercantum dalam Al-Quran Surat Ash-shaffat ayat 102 – 107.
“Maka tatkala anak itu baligh berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata; Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu? Ia menjawab, Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu, InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar. Dan kami panggil dia, Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu benar yang wajib dilaksanakan, sesungguhnya demikian kami memberikan balasan kepada orang yan g berbuat baik. Sungguh ini benar-benar ujian yang nyata; dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.
Itulah Ibrahim a.s. yang senantiasa lurus dalam niat untuk lillaahi ta’ala, dapatkah menjadi inspirasi di kehidupan kita. Kehidupan yang tengah galau dalam menentukan langkah dan prioritas. Tauhidullah setiap saat terbelenggu oleh hawa nafsu dan keserakahan. Daya pasrah tawakkal ‘alallah kian menjauh dari sikap hidup. Sabar dan syukur menjadi dua aspek ajaran sebatas kata tanpa menyentuh keberadaan dan kekuasaan Allah swt. Do’a yang dipanjatkan hanya bagian dari cara menempuh keinginan pribadi dan bukan media lebih mendekatnya dia kepadaNya... Kebahagiaan selalu dicari sementara ketenangan hidup menjadi dambaannya namun sumber-sumber kebahagiaan dan ketenangan tidak pernah dikunjungi dan ditekuni. Kecemasan, kekecewaan dan kekalutan fikiran dan perasaan hinggap silih berganti karena iman dibiarkan kering dalam jiwa. Man aamana billaahi walam yalbisu iimaanahum bizhulmin faulaaikahumul amnu “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan tidak mencampur adukkan keimanannya dengan kezhaliman pada dirinya maka merekalah orang-orang yang mendapatkan keteangan” Sehingga wajar jika kemudian Allah swt bertanya kepada kita : FAINA TADZHABUUN “kemana kalian akan pergi” padahal semua kita akan kembali kepada-Nya WAILAHI TURJA’UUN. Padahal kita telah diberinya nikmat yang sangat banyak INNAA A’THAINAA KAL KAUTSAR. Yang tidak pernah dapat dihitung wain ta’udduu ni’kmatallaahi laa tuhshuuhaa. Kita lebih mengkhawatirkan hidup miskin di dunia dan seringkali lupa kekayaan apa yang telah dipersiapkan untuk kehidupan kekal di sana. Kita sering merasa apa yang ada pada kita adalah milik kita … Kita kadang lengah untuk memanfaatkan seluruh amanatnya dengan benar sesuai dengan kehendak Sang Pemberi, Allah SWT Lupa untuk gemar membersihkannya serta rakus untuk menambah jumlahnya dengan berbagai cara, padahal semuanya akan diperiksa di pengadilan akhirat, pengadilan yang akurat dan adil.
Melalui shalat dan berkurban itulah bukti nyata implementasi ungkapan syukur kita kepadaNya. Fashalli lirabbika wanhar. Shalat yang ditegakkan yang berbekas selama selama 24 jam. Shalat yang mampu merasakan hadirnya diri kita menghadap Allah SWT Ash-shalaatu mi’rajul mukminin. Sedangkan berkurban adalah manifestasi dari kesejajaran kita dengan hamba Allah lainnya diiringi rasa cinta kepadaNya. Mereka yang berkurban adalah mereka yang telah mampu mengendalikan kepentingannya untuk meraih nilai takwa. “Daging kurban dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, akan tetapi ketakwaan daripada kalianlah ayng akan sampai kepadaNya.” (Q.S. Al-Haj : 37). Berkurban melalui harta benda baik berupa zakat, infak, dan shadaqah merupakan hal yang menjadikan harta kita bersih dan membuat kita kaya di akhirat kelak.
Di sisa hidup kita yang sangat singkat ini, hendaklah kita mulai mengevaluasi diri dan posisi kita masing-masing. Jangan sampai terjadi krisis bahkan musibah di dalam ibadah rumah tangga kita, yakni tidak diraihnya khusnul khatimah.
Biarkan ayah menjadi pemimpin rumah tangga sesuai dengan tuntunan Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Ayah yang seperti Ibrahim a.s. yang senantiasa mengedepankan dan mengembangkan nilai tauhid dalam kepemimpinannya. Ayah yang bijak yang menghidupkan komunikasi dalam keluarganya.
Biarkan pula ibu menjadi pengelola dan penjaga tumah tangga suaminya. Ibu yang sanggup menjaga kehormatan suaminya. Ibu yang menjadi tempat kembali bagi suami dan anak-anaknya. Ibu yang serta merta menghardik syaitan untuk mendukung ibadah keluarganya. Ibu yang tegar dalam menghadapi tantangan kehidupan. Ibu yang senantiasa berharap ridha suaminya.
Sementara anak tampil sebagai generasi rabbani. Generasi yang menyejukkan mata dan menentramkan hati. Generasi yang mengikuti perintah Allah melalui ayah dan ibunya dengan kesabarannya. Generasi yang dapat meningkatkan iman bagi orang tuanya. Generasi yang sanggup mengantarkan kedua orang tuanya dengan do’a di sepanjang hayatnya. Inilah keluarga idaman yang sanggup melahirkan ungkapan BAITII JANNATII.
Dengan reposisi seperti ini krisis identitas dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan berkeluarga akan segala teratasi segala persoalan hidup, karena semuanya bermuara kepada TAUHIDULLAH. Bahwa semua telah diatur olehNya. Bahwa Allah mempunyai rencana untuk mengembalikan derajat kemuliaan manusia dengan berbagai cara sehingga kita memperoleh tempat disisiNya kelak.
Allaahumma Ya Allah, saat ini kami berkumpul dengan KekuasaanMu untuk bermohon ampun dari segala dosa maksiat kami. Ya Allah, ampunilah dosa kami dan ampuni pula dosa kedua orang tua kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami ketika kami masih kecil. Ya Rabbi, Berikanlah rahmat dan maghfirahMu kepada para guru kami, kepada para pemimpin kami dan kepada kaum muslimin baik yang masih hidup maupun yang telah tiada.
Ya Allah Ya Rabbana,
Inilah kami, hambaMu yang berharap limpahan rahmat dan karuniaMu, walau Engkaupun Mengetahui akan perbuatan ingkar kami kepadaMu.
Inilah kami yang tidak akan pernah malu bermunajat kepadaMu untuk senantiasa melindungi kami. Bimbing dan pimpin jalan hidup kami dengan petunjuk dariMu. Berikan kekuatan kepada kami untuk menegakkan al-Quran dan Sunnah RasulMu di
sepanjang hayat kami.
Allahumma Ya Allah,
Saat ini diantara saudara-saudara kami dipanggil olehMu ke Baitullah sehingga dapat menunaikan diantara perintahMu. Selamatkanlah perjalanan mereka, Ya Allah. Mudahkanlah urusan mereka, Ya Allah. Jadikanlah mereka sebagai hajjan mabruurun yang balasannya hanya SyurgaMu, Ya Allah Ya Arhamarraahimiin. Sayangi mereka, berkahi mereka, cukupkan mereka, lindungi mereka YAA ALLAH.
Allahumma Ya Allah,
Selamatkanlah bangsa kami dari adzabMu. Mudahkanlah para pemimpin kami untuk memperoleh jalan keluar dari krisis yang tengah kami alami. Bukalah hati dan fikiran para pemimpin kami untuk mudah menerima hidayah dariMu. Bimbing mereka, Ya Allah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar