Muhammad s.a.w. adalah sosok mengagumkan, bukan hanya diakui oleh pengikutnya sendiri, bahkan orang-orang non muslimpun mengakui pengaruhnya di urutan pertama diantara tokoh dunia sepanjang masa. Dia adalah pribadi yang paripurna baik secara pribadi namun juga sebagai pemimpin keluarga, ummat, sampai kepada panglima perang dan negarawan yang sangat memukau.
Kepribadian yang sempurna yang dimiliki Nabi Muhammad s.a.w. sempat menjadi pertanyaan sahabatnya dengan jawaban singkat dari Aisyah r.a. bahwa “Akhlak Nabi adalah akhlak Al-Quran” (kaanakhuluhul quran). Artinya, keseluruhan sepak terjang Nabi s.a.w. dalam kehidupannya bersumber dan cermin dari Al-Quranul Karim. Beliau tidak pernah bertindak berdasarkan hawa nafsunya (wamaa yanthiqu ‘anil hawa inhuwa illaa wahyuyyuuhaa…).
Muhammad s.a.w. adalah pribadi yang menawan, menentramkan, menakjubkan, cerdas, jujur, penyayang, sabar, rendah hati, pemberani, tegas, sopan, qona’ah, tawakkal, pendamai, toleran, adil, bijaksana, disiplin, tegar, berwibawa, sederhana, pemaaf, rela berkorban, ikhlas, lebih mementingkan orang lain dan kemulian-kemuliaan pribadi yang sulit diungkap dengan lisan kita. Kini, ummat Islam haus dengan contoh seperti itu. Sekali lagi, ummat Muhammad s.a.w. sendiri merasakan kesulitan untuk bisa menemukan akhlak yang tinggi seperti itu. Padahal di tangannya, untuknya, kepada ummatnya Al-Quran diberikan untuk menjadi pedoman hidup dan kehidupannya. Bahkan Al-Quran diperuntukan bagi segenap manusia sebagaimana firman Alloh dalam Al-Quran.Surat Al-Baqarah ayat 185 yang artinya: “… Aku turunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…”
Dengan demikian, selayang pandang dapat kita katakan bahwa jika ada pendapat yang menyebutkan bahwa kita akan sulit meneladani Nabi Muhammad s.a.w. itu artinya kita tidak banyak bergaul dengan Al-Quran. Fikiran dan perasaan kita tidak dihiasi dengan kalimat-kalimat Alloh swt yang tertera dalam Al-Quranul Karim. Pijakan kita tidak lagi banyak dipengaruhi oleh Al-Quran, walaupun kita tetap yakin bahwa Al-Quran adalah wahyu Alloh yang tidak diragukan kebenrannya. Al-Quran sekedar diyakini namun tidak dijadikan rujukan dalam bersikap, berfikir dan bertindak. Seolah kita telah mampu merawat alam dan lingkungan sosial dengan cara kita sendiri sehingga hawa nafsu kita lebih unggul dibanding dengan Al-Quran. Rasululloh saw bersabda: “Tiadalah kamu beriman sehingga perilaku hawa nafsumu sesuai dengan tuntunan ajaran yang aku bawa” (HR. Ath-Thabrani). Allah SWT berfirman yang artinya; Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (Al-An-am : 50).
Sosok Nabi saw. adalah sosok yang total bersikap dan berbuat berdasarkan wahyu Alloh swt. Seperti halnya firman Alloh pada Q.S. Yunus ayat 15 sebagai berikut yang artinya: dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan Pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia". Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)".
Keberserahan Nabi Muhammad kepada wahyu disebabkan keyakinannya kepada kebenaran dan bimbingan, petunjuk dan solusi kehidupan bagi ummat manusia. Nabi menyadarinya bahwa sebelum datang Al-Quran kepadanya, ia adalah orang biasa yang tidak memahami dan apalagi menemukan jalan keluar bagi perbaikan dan peningkatan peradaban manusia. Nabi tidak tahu banyak tentang alam, lingkungan, tumbuhan, hujan, kenikmatan, kisah para nabi yang sempurna, ilmu tentang janin dan permulaan penciptaan manusia, ilmu tentang permulaan terbentuknya alam raya ini, akhlak dan pola hidup bermasyarakat, tata cara jual beli, berpemerintahan, bernegara, berkeluarga, kematian, hidup setelah mati dan sebagainya. Semua ilmu itu Nabi saw peroleh dari wahyu yang secara sempurna kini tercakup dalam Al-Quranul Karim. Alloh menyatakan dalam Q.S. Yusuf ayat 3 yang artinya: Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.
Oleh karena itu, pribadi Nabi saw adalah pengejawantahan dari Al-Quran. Itulah pernyataan Asiyah r.a. ketika ditanya tentang akhlak dan pribadi Nabi Muhammad saw., dia menjawab, "Akhlaknya adalah Al Qur'an." (HR. Abu Dawud dan Muslim). Nabi saw begitu bangga dengan Al-Quran karena baginya ia adalah laksana surat cinta pemusnah rindu kepada Alloh saw. Sehingga beliau saw. Bersabda, “Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Qur'an.” (Ad-Dailami dan Al-Baihaqi).
Ramadhan datang kepada kita dengan segala tawaran untuk kemuliaan manusia yang semestinya. Bahkan shaum yang dilaksanakan oleh kaum musliminpun semata-mata untuk mambantu manusia menjadi makhluk yang bersanding di sisi Alloh swt kelak di akhirat (Q.S. Al-Hujuraat : 13) , karena dengan shaum kita bisa meraih ketakwaan (Q.S. Al-Baqarah : 183). Dan ketakwaan hanya akan diperoleh melalui pengkajian dan pengamalan Al-Quranul Karim (Q.S. Al-Baqarah : 2). Oleh karena itu, muslim yang dalam benaknya tidak bersisa ayat-ayat suci Al-Quran merupakan muslim yang berjalan dengan menggunakan dirinya saja yang seolah sangat mengerti tentang alam raya dan kehidupan segala makhluk. Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda bahwa “Orang yang dalam benaknya tidak ada sedikitpun dari Al Qur'an ibarat rumah yang bobrok” (Mashabih Assunnah). Akhirnya, mudah-mudahan Alloh swt membuat kita istiqomah dalam menjalankan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar