Kamis, 10 Maret 2011

Pembentukan karakter

Hanya enam langkah untuk bisa membentuk kepribadian yg diharapkan. Di bawah ini ditulis secara berurutan dari awal proses pembentukannya sbb:
1. Berfikir
2. Bertindak
3. Berulang
4. Biasa
5. Ciri/identitas/Karakter
6. Kepribadian

Catatan:
Pendapat saya itu mungkin salah. Jd, ya maaf dech kalu salah.

Yg jelas, pertanyaan kita adalah: "Kesan apa yg ingin diterima dari org lain, mk itulah bagian dari kebiasaan2 yg dilakukan sbg cikal bakal kepribadian kita".

Jd, anda ingin dikenal org sbg "apa" itulah yg biasa anda lakukan...
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Dream team

Sharing

بِسْـــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

DREAM TEAM

Team work yg mangtab itu jd impian para organisator tak terkecuali di Madani.

Mungkin paparan di bawah ini adalah bagian dari dream team yg didamba setiap organisasi:

1. Komitmen yg besar utk mewujudkan cita2 bersama.
-Pertanyaannya adalah "Sudahkan kita memiliki tujuan dlm ber-Madani?

2. Kesadaran & Keterpanggilan hati utk ber-INISIATIF dlm menetapkan nilai2 (AD/ART/Perdoman operasional/teknis) yg kemudian mengikat semua anggota tim.

3. Bangun harapan2 positif & lebih berkembang dari seluruh anggota tim.

4. Buat aksi yg realistis & bisa diterima dg senang hati dan bersemangat.

5. Jangan tunda utk menyelesaikan masalah. Satu dtg selesaikan, lalu dtg lg selesaikan lg, demikian seterusnya. Karna satu masalah yg dibiarkan akan mengganggu kerja team.

6. Ada standar (indikator) keberhasilan kerja yg jelas. Indikator itu dpt dibuat oleh seluruh anggota team. Indikator bisa berubah sesuai kebutuhan & perkembangan team.

7. Yang ketujuh merupakan pendapat yg blm tuntas. Jd ga akan ditulis ah. Nanti weh kalo idenya udah kumplit, insyaAlloh diwartosan. Nya?

Kitu tah teman2. Moga bermanfaat. Tp kalo ada kata yg salah, duhh hapunten teu pisan2 maksad ngahaja lepat da. Hehe...

Yu ah, mangga kasadayana.

Salam,
Ayi@aya_deui.ide
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Minggu, 06 Maret 2011

Manajemen renyah_merubah diri/organisasi

Apakah Anda ingin melakukan proses perubahan menuju kehidupan yang lebih baik? Melakukan perubahan perilaku (behavior change) agar Anda tumbuh menjadi pribadi yang sukses nan sejahtera? Atau mungkin Anda pengin melakukan proses perubahan agar kinerja perusahaan dan organisasi Anda menjadi lebih kinclong. Melakukan proses "organizational change" yang berhasil?

Tema tentang perubahan – baik dalam ranah personal ataupun organisasional – telah lama menjadi topik hangat dalam jagat manajemen. Cuma sialnya, banyak inisiatif perubahan (change management) yang gagal dan nyungsep di tengah jalan, dan kemudian kandas. Mengapa bisa seperti ini?

Dan apa yang mestinya didekap erat manakala kita hendak melakukan proses perubahan yang berhasil – baik pada level personal ataupun organizational?

Sejumlah pakar perilaku (behavioral expert) menyebut proses perubahan acap menjadi tidak efektif lantaran diawali dengan pendekatan weakness-based orientation. Sering juga disebut sebagai problem-based orientation. Maksudnya begini : inisiatif perubahan diawali dengan premis bahwa ada yang "salah" dalam diri kita atau organisasi kita. Bahwa diri kita atau organisasi kita memiliki banyak kekurangan (weakness) dan problem.

Untuk itulah kemudian kita melakukan serangkaian action untuk "mengobati" kelemahan itu, atau juga untuk mengobati problem yang begitu banyak muncul di organisasi/perusahaan kita.

Pendekatan problem-based atau weakness-based ini begitu merasuk dalam wacana manajemen selama ini. Begitulah kita lalu mengenai ilmu problem solving skills, atau competency gap analysis, atau juga beragam metode untuk menganalisa akar masalah (root cause problem analysis). Semua metode ini berangkat dari premis yang tadi itu : bahwa ada "kekurangan", "penyakit" atau "problem" dalam diri kita atau organisasi kita, dan kita harus mengobatinya.

Dan aha, sejumlah studi menunjukkan bahwa pendekatan semacam itu acapkali tidak efektif dalam membawa keunggulan kinerja. Sebabnya sederhana : pendekatan tersebut dengan mudah mendorong kita untuk terjebak dalam negative mindset and culture. Kita menghabiskan energi yang begitu banyak dan melelahkan untuk hanya berkutat pada kekurangan, pada kelemahan, pada problem (masalah) yang seolah-olah tak pernah kunjung selesai.

Pendekatan yang beorientasi pada problem dan weakness-based itu dengan mudah juga akan membawa kultur pesimisme dan men-discourage semangat kita atau anggota tim. Kita atau anggota tim pesimis sebab seolah-olah kita memiliki begitu banyak kelemahan, dan organisasi kita penuh dengan problem/masalah. Dalam situasi ini, kita dengan mudah kehilangan inspirasi dan motivasi.

Itulah kenapa kini muncul pendekatan yang secara radikal berbeda dengan pendekatan diatas. Pendekatan baru ini acap disebut sebagai strenghts-based orientation. Prinsip dasar dari pendekatan ini adalah : kita akan berhasil menuju ke arah yang lebih baik, jika inisiatif perubahan itu bertumpu pada kekuatan yang telah kita miliki saat ini. Kuncinya adalah ini : focus on your positive strenghts.

Jadi alih-alih menghabiskan energi untuk berfokus pada kekurangan (ingat : competency gap analysis) atau pada problem organisasi, kita justru harus mencari elemen kekuatan yang telah ada pada diri kita, atau elemen positif yang telah hadir inside our organization. Alih-alih menggunakan bahasa "root cause of problem", kita harus menggunakan frasa "root cause of success" untuk melacak kisah keberhasilan yang pasti sudah pernah ada dalam organisasi kita.

Konkritnya : alih-alih meratapi kelemahan diri Anda terus menerus, mengapa tidak mengingat apa kira-kira kekuatan (strenghts) yang ada dalam diri Anda, atau pengalaman positif yang pernah Anda miliki (pasti dong Anda punya kelebihan atau pengalaman positif). Nah, studi menunjukkan bahwa kinerja individual akan jauh melesat jika kemudian "poin-poin positive" yang sudah ada itu terus diakumulasi, diduplikasi dan terus dimekarkan menuju titik yang optimal.

Dalam konteks organisasi, hal itu juga berlaku. Alih-alih sibuk mendiagnosa problem yang ada dalam organissasi/perusahaan, dan kemudian lelah mengobatinya, maka energi kita justru harus diarahkan untuk menggali "momen-momen positif" atau "fitur kekuatan" yang telah ada dalam organisasi. Lalu ciptakan serangkaian tindakan untuk menduplikasi "momen positif" tersebut, dan terus tumbuhkan fitur kekuatan yang telah ada menuju ke level yang makin maksimal.

Secara ekstrem pendekatan ini mau mengatakan hal seperti ini : forget your weakness/problems, and just focus on your strenghts/positive expectations. Find your positive areas and discover your bright spots. Dan ajaibnya, beragam studi menunjukkan premis semacam itu ternyata telah berhasil mengubah banyak individu dan organisasi melesat menjadi lebih sukses.

Jadi mulai hari ini, jika Anda ingin menjadi pribadi yang lebih sukses, selalu ingatlah kalimat ini : always, and always focus on your bright spots.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Seri Manajemen

4 Jalan Rahasia Menuju The Joy of Success

Written by Yodhia Antariksa

Posted March 7, 2011 at 12:00 am

Beberapa waktu lalu di blog ini telah diulas tentang pentingnya pendekatan strenghts-based orientation dalam merajut dan membentangkan hamparan kesuksesan. Itulah sebuah pendekatan yang selalu membujuk kita untuk fokus pada kekuatan positif dan success factors yang telah ada. Alih-alih mendedahkan terlalu banyak energi pada upaya mencari root cause of problems, pendekatan itu mengajak kita melacak root cause of sucess.

Sejatinya, dalam ranah ilmu perilaku, pendekatan itu acap juga dikenal dengan nama Appreciative Inquiry. Mulai dikembangkan pada tahun 90-an oleh paman David Cooperider, pendekatan ini mau mendorong kita untuk selalu membangun apresiasi (bukan berkeluh kesah) atas fitur kekuatan (strenghts) yang telah ada dalam diri kita – baik pada level personal ataupun organisasional.

Dalam pendekatan appreciative inquiry itu dikenal adanya empat fase kunci untuk menerapkannya : yakni fase Discover, Dream, Deliver and Destiny. Dalam tulisan kali ini, kita akan membahas empat fase ini dengan penuh kerenyahan, disertai dengan contoh/kasus nyata yang bersifat praktis.

Fase pertama dalam appreciative inquiry adalah discover : atau sebuah upaya mencari fitur kekuatan positif yang telah ada dalam diri kita (diri kita ini bisa berupa pribadi seseorang atau sebuah organisasi). Karena itu ada baiknya jika Anda sekali-sekali melakukan fase atau proses untuk menemukan positive elements ini.

Sebagai contoh, saya mengambil kasus pada perusahaan konsultan yang telah saya kembangkan, yakni PT. Manajemen Kinerja Utama. Saya selalu membayangkan salah satu fitur kekuatan firma konsultan kami ini adalah  : fokus untuk hanya memberikan jasa pengembangan sistem manajemen kinerja (atau juga pengembangan corporate scorecard/key performance indicators). Kami tidak ingin menjadi konsultan/lembaga pelatihan gado-gado (semua topik tersedia); namun lebih ingin menjadi expert dalam bidang tertentu yang spesifik.

Fitur tersebut barangkali bisa menerbangkan kami pada kekuatan kedua : level of expertise kami dalam bidang performance management menjadi kian terasah dan solid.

Kekuatan lain yang mungkin kami miliki adalah ini : dalam jagat online, nama firma konsultan kami nyaris selalu tampil terdepan, khususnya dalam bidang manajemen kinerja. Jika Anda mengetikkan kata kunci seperti : konsultan manajemen kinerja, konsultan KPI, konsultan balanced scorecard, atau training KPI; maka peringkat satu hasil pencarian di Google, semuanya merujuk ke halaman web perusahaan PT. Manajemen Kinerja Utama.

Tentu saja firma konsultan kami masih memilihi banyak kekurangan, but so what? Sekali lagi, alih-alih mencari root cause of problems, kami lebih senang membahas beragam kekuatan kami diatas, dan terus menerus memupuk kekuatan itu untuk menjelma menjadi BIG advantages bagi kemajuan bisnis kami.

Fase berikutnya dari pendekatan appreciative inquiry adalah : dream. Impian apa yang ingin kita tegakkan di masa mendatang. Tujuan indah apa yang hendak kita bentangkan dalam hamparan masa depan kehidupan. Dalam kasus diatas, kami selalu punya mimpi agar firma konsultan PT. Manajemen Kinerja Utama bisa terus tumbuh. Kami berharap bisa terus mendapatkan projects/klien yang kebutuhannya pas dengan expertise kami.

Setelah dream, fase selanjutnya adalah deliver. Sebab kalau hanya dreaming doang, semuanya hanya akan berhenti menjadi fatamorgana. Itulah sebabnya kami selalu berusaha berfokus pada kekuatan kami yang telah diuraikan diatas untuk merengkuh impian-impian kami. Kami terus mengasah expertise kami dalam bidang manajemen kinerja. Saya juga terus menulis di blog ini dan web perusahaan; sebab kiat itulah yang membuat nama web PT. Manajemen Kinerja Utama mencorong di halaman pertama Google – dan sungguh ini merupakan online marketing yang banyak memberi rezeki dan barokah bagi bisnis kami.

Fase terakhir adalah Destiny. Atau destinasi dimana tujuan kita telah tercapai satu demi satu. Tentu saja selanjutnya, impian yang telah terengkuh itu akan terus dikembangkan menjadi impian-impian baru yang lebih menggairahkan, dan lebih exciting. Disitu terpetakan sebuah "never ending journey" untuk mencapai jejak kesuksesan yang berkelanjutan.

Discover. Dream. Deliver. Destiny. Mudah-mudahan empat fase ini akan membawa kita tenggelam dalam ritual keberhasilan yang penuh dengan kidung sukacita.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kamis, 03 Maret 2011

Muhasabah

‎​بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمَِ

Saya berjalan menyusuri jalan kehidupan menuju perjumpaan dg اَللّهُ Yang Maha Mengadili. Kadang jalan itu naik kadang juga turun. Kadang saya temukan jalan terjal, licin, berbatu, berkelok namun kadang sayapun menemukan jalan mulus, lurus dg pemandangan yg indah.
Semuanya harus dijalani walau tidak selalu harus dilalui. Saya harus memilih alternatif dari jalan yg tersedia itu.

Detik demi detik telah kita lalui, semoga hari ini Alloh ampuni atas kelalaian kita. Semoga Alloh terima penghambaan kita dari segala aktivitas kita.

Ya Robb,
Kami yakin ENGKAU Tau apa yg kami lakukan...
Ampunilah kami jika ENGKAU masih melihat betapa minimnya ibadah kami kepada-MU, padahal ragam nikmat-MU tiada henti tercurah pd kami...

Satu hal yg pasti, bahwa saya hanya ingin perjumpaan nanti mendapatkan ucapan selamat dari-NYA dan kemudian DIA mempersilahkan saya menemui-NYA di sorga...

Semoga Alloh ridoi kita.
Ampuni hamba Ya اَللّهُ...


Lalu saya bertanya pd diri sendiri:
Masihkah sikap dan perilakuku bermanfaat?
Adakah senyumku yg membuat ketentraman?
Adakah tatapanku membuat ketenangan?
Adakah kalimat2ku menyelamatkan?
Adakah tulisanku yg menebar ilmu?
Masihkah langkahku menuai nilai rido Ilahi?

Bgmn mungkin semua itu diraih jk hati masih berbalut keangkuhan? Jika hati masih bergemuruh dg penghargaan? Jk hati masih menyisakan kecemburuan? Jika hati masih tertutup hidayah Ilahi? Jk hati masih diselimuti keputus-asaan?

Bgmn mungkin langkah akan menjadi baik jika fikiran masih sebatas kepentingan pribadi? Jika rasa masih mementingkan egoitas diri.

Wahai jiwa,
Sadarlah kini jatah hidupmu kian menipis...

Wahai diri,
Sadarlah kini jasadmu kian rapuh,

Ya, kesempatanmu kian berkurang saat kau berdiam tak mengisi sisa umurmu...
Kau sia2kan waktumu dg meratap tanpa melangkah...
Kau picik, kau bodoh telah membiarkan dirimu berada di jurang kehancuran.

Kau telah biarkan syetan memimpin di kehidupanmu...

Astaghfirullahal 'adhiim.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Selasa, 01 Maret 2011

Tafsir ayatil ahkam-tafsir basmalah

Tafsir Basmalah
‎​بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Bismillaahirrohmaanirrohiim

BISMI :
Al-Ismu (sebuah nama/bentuk singular/mufrod/kata tunggal)adalah pecahan dari As-Sumuwwu, maknanya adalah terangkat & tinggi (karna dg nama tsb menjadi tanda penggenal & dia terangkat olehnya). Ada juga yg mengatakan: kata Ismu itu merupakan pecahan dari as-simatun artinya tanda pengenal/alamat. Menurut imam Qurtuby yg pertama adalah yg paling benar dan pendapat ini merupakan pendapat ulama2 pengikut Hasan Al-bishri (ahli tafsir periode tabi'in (generasi setelah shahabat) karena bentuk jamanya (plural) adalah Asmaa_un (nama-nama) dan bentuk tashgiirnya (sebuah ungkapan untuk memperkecil/merendahkan/mensedikitkan) "sumaiyun" sabagaimana dlm firman Alloh : "walillahil ASMAA_Ul husna" (QS. Al-A'rof: 180).

Sedangkan huruf 'ba' dikaitkan dg suatu perbuatan yg dibuang (tidak ditulis pada teks) sesuai dg perbuatan apa yg sdg dilakukan saat membaca basmalah tsb. Maka ketika sipembaca berkata: "Bismillaah" artinya: "saya membaca dg memohon pertolongan atas nama Alloh". Contoh: ketika seorang penulis mengambil balpoin/pensil, dia berkata: " Bismillaah" artinya: "saya menulis dg memohon pertolongan atas nama Alloh"; juga orang yg mau makan berkata: "bismillaah" artinya : "saya makan dg memohon pertolongan atas nama Alloh", dan begitulah seterusnya setiap pekerjaan/perbuatan dan dalam segala aktivitas akan menjadi ketentuan yg dikaitkan dg huruf "ba" itu. Dalam hadis Rasululloh saw. bersabda: Setiap urusan yg penting yg tidak diawali dg bismillaah maka itu adalah amalan yg sia-sia (terputus)".

Imam Qurthuby menjelaskan:
"Dan ditulisnya "bi_smillaah" tanpa huruf "alif" karna dipandang cukup diwakili dg huruf "ba" yg menempel (ilshoq) sehingga bisa digunakan untuk berbagai perbuatan. Berbeda dg firman Alloh: Iqro bi_smi robbika.... (Qs. Al-A'laq: 1) maka huruf 'Alif'nya itu tidak dibuang/dihilangkan hal itu dikarenakan sedikit sekali penggunaannya (Nb: karena perbuatannya sudah jelas yaitu iqro/bacalah, sementara bismillaah untuk segala perbuatan yg lebih dari satu).
(Lihat Tafsir al-Qurthuby: 1/99 dan Fahrur Rozy : 1/83).

ALLAH:
Adalah sebuah nama kepunyaan Dzat Yang Maha Suci, Dzat Allah Yang Maha Agung, yg senantiasa ada serta wajib keberadaanNya, tidak boleh disekutukan dg dan oleh apapun juga.

Ibnu Katsir menjelaskan:
(Allah) adalah sebuah nama untuk Tuhan Yang Maha Tinggi kedudukannya, dan nama itu disebut, sebab sesungguhnya nama itu adalah nama yg teragung. Hal itu dikarenakan nama tsb. mensifati kepada seluruh sifat Allah, sebagaimana firman Allah ta'ala:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

"Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yg berhak disembah) selain Dia, Raja, Yg Maha Suci, Yg Maha Sejahtera, Yg Mengaruniakan keamanan, Yg Maha Memelihara, Yg Maha Perkasa, Yg Maha Kuasa, Yg Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yg mrk persekutukan". (Q.S. Al-Hasyr: 23)

Maka nama-nama tsb (dalam ayat di atas dan dalam al-Qur'an) semuanya itu ada dan hadir untuk mensifati Alloh swt."

Kemudian Imam Ibnu katsir menegaskan:
"Dan nama Alloh tersebut adalah nama yg tidak boleh digunakan selain daripada-Nya!!!"
(Tafsir Ibnu Katsir juz 1 dan lihat kitab Ruhul Ma'any)

Dan Imam Qurtubhy berkata:
Allah, nama ini adalah nama yg paling agung diantara nama-nama-Nya Yang Mahasuci, dan juga mencakup/meliputi kepada semua nama-nama yg lainnya, dan juga merupakan sebuah nama bagi yg benar-benar ada, yg mencakup kepada seluruh sifat-sifat ketuhanan, yg disifati dg sifat-sifat rububiyah, yg Maha Esa dalam keberadaanNya, yg tidak ada Tuhan kecuali hanya Dia Yang Mahasuci. (Tafsir Qurthuby: 1/102)

Dan nama yg teragung ini (Allah) adalah sebuah nama yg absolut, tidak boleh digunakan secara mutlak kecuali hanya untuk yg diibadahi (disembah) dg benar-benar dan dg cara yg benar. Pendapat ini merupakan hasil dari kesepakatan mayoritas Ulama sebagaimana dijelaskan oleh Abu Hayyan. (Lihat Bahrul Muhith Li Abi Hayyan : 1/14)

Ada yg berpendapat bahwa nama (Allah) tersebut merupakan pecahan (derivasi), sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Jauzy berikut ini:
"Para Ulama berbeda pendapat tentang nama Allah dg sebutan (Allah),

A. Pendapat pertama mengatakan:
"Bahwasanya nama ((Alloh)) itu merupakan pecahan (bukan kata dasar)" yaitu terbentuk dari kata:
1) Al-ILAAHATU yg memiliki arti Al-'IBAADU (yg diibadahi/yg disembah), dan dari kata TA-ALLUHU artinya At-ta'abbudu (penyembahan/penghambaan), sebagaimana dikatakan Ru_bah dalam sya'irnya:
"Selamanya hanya milik Allahlah segala kekayaan yg melimpahruah;
Kekayaan itu suci bersih dan akan diminta kembali dari pengabdiannya;

2) Al-Walahu karena hati seorang hamba terfokus & tertuju kepada-Nya, dan juga selalu terikat kepada-Nya Yg Mahamulya dan Maha Tinggi.

B. Pendapat kedua, mengatakan:
"Bahwasanya nama (Allah) merupakan kata dasar bukan pecahan dari kata yg lain"

Komentar Ali Ash-Shobuny:
"Dan yg benar adalah bahwa kata (Allah) itu merupakan kata dasar (bukan pecahan), bahwasannya (Allah) itu adalah nama bagi dzat Yang Mahasuci, Maha Sejahtera, lagi Maha Tinggi, tidak boleh disekutukan dg yg lainnya (ciptaan-Nya), maka nama tsb tidak boleh dipakai kecuali hanya oleh-Nya, oleh sebab itu nama tsb tidak ada duanya bahkan lebih dari itupun tidak boleh".


AR-RAHMAAN AR-RAHIIM:
Adalah dua nama diantara nama-nama Allah Yg Maha Tinggi, kedua-duanya merupakan pecahan dari kata (Ar-rahmah).

Ada yg berpendapat bahwa kata "Ar-Rahman Ar-rahiim" merupakan kata dasar artinya & terbentuk dari kata yg lain, hal itu dikarenakan kedua nama tsb merupakan bagian dari nama2 yg sifatnya khusus ditujukan untuk Allah Yg Mahasuci (rincian makna keduanya akan dijelaskan pada tafsir surat Al-Fatihah).

Makna Basmallah:
Basmalah adalah bacaan sipembaca: "Bismillaahir rahmaanir rahiim" & maknanya adalah 'saya memulai dg menyebut nama Allah & mengingat-Nya sebelum segala sesuatu, memohon pertolongan hanya kepada-Nya dalam setiap urusanku, meminta perlindungan hanya dari-Nya, karena sesungguhnya Dia itu Maha Kuasa atas segala sesuatu'.

Imam Ibnu Jarir berkata:
"Sesungguhnya Allah telah mengenalkan diri-Nya & begitu suci nama-nama-Nya. Dia telah memberikan pendidikan kpd nabiNya melalui sebuah pelajaran dg mengingat nama-nama-Nya yg indah, mendahului seluruh aktivitanya (Rasulullah saw.) Dan Allah swt telah menjadikan semua itu sebagai keteladanan yg harus dijadikan contoh bagi seluruh umat manusia. Baslamah menjadi pembuka dalam setiap perkataan mereka (umat nabi), sebagai pendahuluan dalam surat-menyurat, dalam catat-mencatat & dalam memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karena itu cukup dg basmalah telah menggambarkan & mewakili ungkapan maksud-maksud yg tersembunyi (tidak diungkapkan).

Maka ketika sipembaca membaca "bismillaahhir rahmaanir rahiim" saat membuka lembaran mushaf Al-Qur'an untuk membaca sebuah surat maka dg bacaan (basmaah tsb) menggambarkan bahwa maksudnya itu adalah 'aku membaca dg nama Allah...' dan begitu pula bacaan "bismillaah" saat dia mau bangkit untuk berdiri, atau mau duduk, dan seluruh perbuatannya, hal itu memberi gambaran tentang maksud dan tujuannya dg bacaan "bismillaah" bahwa ia bermaksud: 'aku berdiri dg menyebut nama Allah...', 'aku duduk dg menyebut nama Allah..', dan begitulah dalam seluruh perbuatannya. (Lihat Jami'ul Bayan fi tafsir Qur'an libnu Jarir)
Allohu A'lam!

-tafsir basmalah selesai-
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Mendidik anak

Kita tdk bisa lepas dari pembicaraan fithrah, perjanjian manusia dlm rahim, potensi awal manusia, tujuan penciptaan, lalu mungkin metodenya.

1. Fithrah
Allah swt berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Q.S. Ar-Ruum:30)

Jd fithrah dlm ayat ini adalah dinul Islam, sehingga ketika kita mendapatkan Sabda Nabi saw ttg "Seluruh bayi yg lahir adalah fithrah", itu artinya seluruh bayi (bangsa manapun) asalnya beragama Islam. Oleh karena itu hadisnya dilanjutkan tergantung ibu bapaknyalah (atas bayi itu), apakah mau dijadikan nasrani, yahuni ataupun mau dijadikan majusi.

Tah, tgs utama org tua adalah mempertahankan dinullah pd diri anak.

2. Perjanjian dlm rahim
Allah swt berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Q.S. Al-A'raf:172)

Inilah ayat "syahadah" seluruh manusia akan pengakuannya kpd Allah swt sbg penciptanya yg akan tunduk pd ketentuan2 yg dibawa oleh nabi-NYA. Sehingga "syahadah" ini hanya bersifat uluhiyah (hanya kpd Allah saja), yg kemudian dilanjutkan dg syahadat pd rasulnya masing2 sesuai zaman dari bayi itu dilahirkan. Nah utk manusia yg lahir setelah Nabi Muhammad saw saharusnya bersyahadat atas Beliau saw (disebut syahadatain).

Sedikit saya menyimpang nih:
Jika ada org yg berkata "kita perlu baca syahadat di hadapan imam", maka itulah ayat yg menyatakan bhw kita sudah bersyahadat lgsg di hadapan Allah swt pd saat di rahim ibu kita masing2.
Jika mrk memaksa bhw syahadat kita tdk syah, mk saya bisa bertanya begini: "Tidak cukupkah syahadat kita lgsg pd Allah dibanding pd imam/seseorang itu" lalu "Bukankah Al-Quran adalah PASTI benarnya, jd kenapa hrs bersyahadat lagi padahal Al-Quran sudah menyatakannya bhw SEMUA manusia bersyahadah kepada Allah swt".

Tah, tgs org tua nu kadua nyaeta "menjaga akidah anak" agar tetap bertauhid kpd Allah swt.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

3. Potensi awal manusia
Allah berfirman:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S. Al-An'am:77).

Tiga potensi yg diberikan Allah swt kepada semua manusia, yakni pendengan, penglihatan dan hati (dlm pengertian akal pikiran).

Tah janten, eta nu kedah dirawat ku para sepuh.

4. Tujuan penciptaan
Firman Allah swt:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". (Q.S. Al-Baqarah:29)
Khalifah artinya pemimpin yg merawat kehidupan, melestarikan kehidupan baik dg pangan, sandang maupun papan. Tentu kepemimpinan yg mengarah kepada ketakwaan yg pasti menggunakan aturan2 sesuai dg ajaran Allah swt.

Tah janten, org tua berkewajiban menumbuhkan kepemimpinan yg benar sesuai dg kehendak Allah swt. Rawat dan pimpin mrk sesuai doa kita:
Waj'alnaa lilmuttaqiina imaamaa...

5. Metode
Firman Allah swt:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

" Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali Imron: 159).

Tah, janten rawatan anak2 kita dg metode spt itu.
Teu kedah dipaparkeun panjang lebar nya?


Wallahua'lam
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!