بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Bismillaahirrohmaanirrohiim
BISMI :
Al-Ismu (sebuah nama/bentuk singular/mufrod/kata tunggal)adalah pecahan dari As-Sumuwwu, maknanya adalah terangkat & tinggi (karna dg nama tsb menjadi tanda penggenal & dia terangkat olehnya). Ada juga yg mengatakan: kata Ismu itu merupakan pecahan dari as-simatun artinya tanda pengenal/alamat. Menurut imam Qurtuby yg pertama adalah yg paling benar dan pendapat ini merupakan pendapat ulama2 pengikut Hasan Al-bishri (ahli tafsir periode tabi'in (generasi setelah shahabat) karena bentuk jamanya (plural) adalah Asmaa_un (nama-nama) dan bentuk tashgiirnya (sebuah ungkapan untuk memperkecil/merendahkan/mensedikitkan) "sumaiyun" sabagaimana dlm firman Alloh : "walillahil ASMAA_Ul husna" (QS. Al-A'rof: 180).
Sedangkan huruf 'ba' dikaitkan dg suatu perbuatan yg dibuang (tidak ditulis pada teks) sesuai dg perbuatan apa yg sdg dilakukan saat membaca basmalah tsb. Maka ketika sipembaca berkata: "Bismillaah" artinya: "saya membaca dg memohon pertolongan atas nama Alloh". Contoh: ketika seorang penulis mengambil balpoin/pensil, dia berkata: " Bismillaah" artinya: "saya menulis dg memohon pertolongan atas nama Alloh"; juga orang yg mau makan berkata: "bismillaah" artinya : "saya makan dg memohon pertolongan atas nama Alloh", dan begitulah seterusnya setiap pekerjaan/perbuatan dan dalam segala aktivitas akan menjadi ketentuan yg dikaitkan dg huruf "ba" itu. Dalam hadis Rasululloh saw. bersabda: Setiap urusan yg penting yg tidak diawali dg bismillaah maka itu adalah amalan yg sia-sia (terputus)".
Imam Qurthuby menjelaskan:
"Dan ditulisnya "bi_smillaah" tanpa huruf "alif" karna dipandang cukup diwakili dg huruf "ba" yg menempel (ilshoq) sehingga bisa digunakan untuk berbagai perbuatan. Berbeda dg firman Alloh: Iqro bi_smi robbika.... (Qs. Al-A'laq: 1) maka huruf 'Alif'nya itu tidak dibuang/dihilangkan hal itu dikarenakan sedikit sekali penggunaannya (Nb: karena perbuatannya sudah jelas yaitu iqro/bacalah, sementara bismillaah untuk segala perbuatan yg lebih dari satu).
(Lihat Tafsir al-Qurthuby: 1/99 dan Fahrur Rozy : 1/83).
ALLAH:
Adalah sebuah nama kepunyaan Dzat Yang Maha Suci, Dzat Allah Yang Maha Agung, yg senantiasa ada serta wajib keberadaanNya, tidak boleh disekutukan dg dan oleh apapun juga.
Ibnu Katsir menjelaskan:
(Allah) adalah sebuah nama untuk Tuhan Yang Maha Tinggi kedudukannya, dan nama itu disebut, sebab sesungguhnya nama itu adalah nama yg teragung. Hal itu dikarenakan nama tsb. mensifati kepada seluruh sifat Allah, sebagaimana firman Allah ta'ala:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yg berhak disembah) selain Dia, Raja, Yg Maha Suci, Yg Maha Sejahtera, Yg Mengaruniakan keamanan, Yg Maha Memelihara, Yg Maha Perkasa, Yg Maha Kuasa, Yg Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yg mrk persekutukan". (Q.S. Al-Hasyr: 23)
Maka nama-nama tsb (dalam ayat di atas dan dalam al-Qur'an) semuanya itu ada dan hadir untuk mensifati Alloh swt."
Kemudian Imam Ibnu katsir menegaskan:
"Dan nama Alloh tersebut adalah nama yg tidak boleh digunakan selain daripada-Nya!!!"
(Tafsir Ibnu Katsir juz 1 dan lihat kitab Ruhul Ma'any)
Dan Imam Qurtubhy berkata:
Allah, nama ini adalah nama yg paling agung diantara nama-nama-Nya Yang Mahasuci, dan juga mencakup/meliputi kepada semua nama-nama yg lainnya, dan juga merupakan sebuah nama bagi yg benar-benar ada, yg mencakup kepada seluruh sifat-sifat ketuhanan, yg disifati dg sifat-sifat rububiyah, yg Maha Esa dalam keberadaanNya, yg tidak ada Tuhan kecuali hanya Dia Yang Mahasuci. (Tafsir Qurthuby: 1/102)
Dan nama yg teragung ini (Allah) adalah sebuah nama yg absolut, tidak boleh digunakan secara mutlak kecuali hanya untuk yg diibadahi (disembah) dg benar-benar dan dg cara yg benar. Pendapat ini merupakan hasil dari kesepakatan mayoritas Ulama sebagaimana dijelaskan oleh Abu Hayyan. (Lihat Bahrul Muhith Li Abi Hayyan : 1/14)
Ada yg berpendapat bahwa nama (Allah) tersebut merupakan pecahan (derivasi), sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Jauzy berikut ini:
"Para Ulama berbeda pendapat tentang nama Allah dg sebutan (Allah),
A. Pendapat pertama mengatakan:
"Bahwasanya nama ((Alloh)) itu merupakan pecahan (bukan kata dasar)" yaitu terbentuk dari kata:
1) Al-ILAAHATU yg memiliki arti Al-'IBAADU (yg diibadahi/yg disembah), dan dari kata TA-ALLUHU artinya At-ta'abbudu (penyembahan/penghambaan), sebagaimana dikatakan Ru_bah dalam sya'irnya:
"Selamanya hanya milik Allahlah segala kekayaan yg melimpahruah;
Kekayaan itu suci bersih dan akan diminta kembali dari pengabdiannya;
2) Al-Walahu karena hati seorang hamba terfokus & tertuju kepada-Nya, dan juga selalu terikat kepada-Nya Yg Mahamulya dan Maha Tinggi.
B. Pendapat kedua, mengatakan:
"Bahwasanya nama (Allah) merupakan kata dasar bukan pecahan dari kata yg lain"
Komentar Ali Ash-Shobuny:
"Dan yg benar adalah bahwa kata (Allah) itu merupakan kata dasar (bukan pecahan), bahwasannya (Allah) itu adalah nama bagi dzat Yang Mahasuci, Maha Sejahtera, lagi Maha Tinggi, tidak boleh disekutukan dg yg lainnya (ciptaan-Nya), maka nama tsb tidak boleh dipakai kecuali hanya oleh-Nya, oleh sebab itu nama tsb tidak ada duanya bahkan lebih dari itupun tidak boleh".
AR-RAHMAAN AR-RAHIIM:
Adalah dua nama diantara nama-nama Allah Yg Maha Tinggi, kedua-duanya merupakan pecahan dari kata (Ar-rahmah).
Ada yg berpendapat bahwa kata "Ar-Rahman Ar-rahiim" merupakan kata dasar artinya & terbentuk dari kata yg lain, hal itu dikarenakan kedua nama tsb merupakan bagian dari nama2 yg sifatnya khusus ditujukan untuk Allah Yg Mahasuci (rincian makna keduanya akan dijelaskan pada tafsir surat Al-Fatihah).
Makna Basmallah:
Basmalah adalah bacaan sipembaca: "Bismillaahir rahmaanir rahiim" & maknanya adalah 'saya memulai dg menyebut nama Allah & mengingat-Nya sebelum segala sesuatu, memohon pertolongan hanya kepada-Nya dalam setiap urusanku, meminta perlindungan hanya dari-Nya, karena sesungguhnya Dia itu Maha Kuasa atas segala sesuatu'.
Imam Ibnu Jarir berkata:
"Sesungguhnya Allah telah mengenalkan diri-Nya & begitu suci nama-nama-Nya. Dia telah memberikan pendidikan kpd nabiNya melalui sebuah pelajaran dg mengingat nama-nama-Nya yg indah, mendahului seluruh aktivitanya (Rasulullah saw.) Dan Allah swt telah menjadikan semua itu sebagai keteladanan yg harus dijadikan contoh bagi seluruh umat manusia. Baslamah menjadi pembuka dalam setiap perkataan mereka (umat nabi), sebagai pendahuluan dalam surat-menyurat, dalam catat-mencatat & dalam memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karena itu cukup dg basmalah telah menggambarkan & mewakili ungkapan maksud-maksud yg tersembunyi (tidak diungkapkan).
Maka ketika sipembaca membaca "bismillaahhir rahmaanir rahiim" saat membuka lembaran mushaf Al-Qur'an untuk membaca sebuah surat maka dg bacaan (basmaah tsb) menggambarkan bahwa maksudnya itu adalah 'aku membaca dg nama Allah...' dan begitu pula bacaan "bismillaah" saat dia mau bangkit untuk berdiri, atau mau duduk, dan seluruh perbuatannya, hal itu memberi gambaran tentang maksud dan tujuannya dg bacaan "bismillaah" bahwa ia bermaksud: 'aku berdiri dg menyebut nama Allah...', 'aku duduk dg menyebut nama Allah..', dan begitulah dalam seluruh perbuatannya. (Lihat Jami'ul Bayan fi tafsir Qur'an libnu Jarir)
Allohu A'lam!
-tafsir basmalah selesai-
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar