Rabu, 08 September 2010

Makna Hedonisme dan Materialisme dalam Organisasi

Sisi kehidupan manusia tdk terlapas dari diri sbg individu dan diri sbg anggota sebuah organisasi (di sini dibatasi organisasi dlm hal kedinasan/formal). Kedua sisi ini sering berjalan menyertai kehidupan seseorang yg kadang2 berjalan tidak searah, walaupun tdk dikatakan berlawanan.

Hedonisme bertumpu pd kesenangan yg difahami seorg individu, yg boleh jd satu dg yg lainnya akan memiliki sumber (penyebab) yg berbeda. Katakanlah tertawa dlm sebuah kasus di tempat yg sama, namun kita tdk dpt memastikan akan sifat hedonis yg membuat kualitas tertawa itu menjadi berbeda. Namun dpt dipastikan bahwa sifat hedonis ini terjadi dlm bentuk pergaulan maupun persahabatan dlm artian kesenangan akan terjadi jika dilakukan bersama sahabat, seolah olah bahwa persahabatan adalah sumber kesenangan sehingga sangat boleh jd seseorg akan lebih membela sahabatnya dibanding dg pembelaan kpd org di luar sahabatnya.

Adapun materialisme dlm kaitan ini adalah sesuatu yg memandang keuntungan materia dari aktivitas formal/ organisasi/ kedinasan. Pembatasan ini dilakukan dg sebuah asumsi bhw kedinasan dianggap sbg aktivitas yg ditengarai menghasilkan honorarium (penghargaan) dlm bentuk uang yg dgnya seseorg bisa menghadirkan materi2 yg lainnya.

Pertarungan antara hedonisme dan materialisme dlm tulisan ini seringkali dimenangkan oleh hedonisme. Tentu alasannya sgt sederhana, bhw kesenangan akan mengalahkan kedinasan/pekerjaan. Persahabatan akan lebih dibela dibandingkan dg bekerja. Toh uang yg dihasilkan dari pekerjaan ujung2nya utk membeli kesenangan. Dan ketika kesenangan sudah ada mk buat apalagi bersusah payah utk bekerja? Jd wajar, org memilih hedonisme dibanding materialisme. Wajar org mengorbankan pekerjaannya dibandingkan dg ditinggalkan teman bergaulnya.

Namun yg menggelitik penulis adalah, andai saja kedinasan menjadi tempat bergaul penuh persahabatan, mungkin organisasi itu akan sgt maju karna disertai dg pembelaan yg luar biasa dari personilnya...
Ya, andai buah fikir yg sederhana ini benar, nampaknya para manajer perlu menelusuri bentuk/tata kerja antar personil dlm organisasinya. Sudahkah kian bersahabat, atau terjalin atas dasar atasan-bawahan dg grs instruksi yg tegas membatasi pola persahabatan dlm kata yg statis "job description"?

Monggo, selamat berfikir. Jika ide ini baik mudah2an menjadi inspirasi bagi kemajuan organisasi. Namun jika salah, ah gampang, LUPAKAN SAJA.

Sekian.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar