Senin, 28 Februari 2011

Metode kasih sayang

Metode Kasih Sayang

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, "Didiklah anakmu karena ia diciptakan utk sebuah zaman yg berbeda dg zamanmu".

Begitu banyak kisah bgmn lemah lembut dan kasih sayangnya Rasulullah saw kpd anak2. Umamah binti Abil' Ash. Umamah adalah anak dari Zainab binti Muhammad saw. Umamah benar2 merasakan kasih sayang sang kakek, Rasulullah saw. Hingga suatu kali, para sahabat tengah duduk di depan pintu rumah Rasulullah saw. Ternyata beliau muncul dari pintu rumahnya sembari menggendong Umamah kecil. Beliau shalat sementara Umamah tetap dalam gendongannya. Jika beliau ruku', beliau letakkan Umamah. Bila beliau bangkit, beliau angkat kembali Umamah. Begitu seterusnya hingga beliau menyelesaikan shalatnya.

Suatu hari, Rasulullah saw pernah mendapatkan hadiah, diantaranya berupa seuntai kalung. " Aku akan memberikan kalung ini pada seseorang yang paling kucintai di antara keluargaku," kata beliau waktu itu. Para istri beliau pun saling berbisik, yang akan memperoleh kalung itu pastilah Aisyah.

Ternyata Rasulullah saw. memanggil Umamah, sang cucu. Beliau pakaikan kalung itu di leher Umamah. Lalu beliau usap kotoran yang ada di hidung Umamah.

Belum lagi kisah tentang anak yg bernama Abu 'Umair, putra dari Abu Thalhah dan Ummu Sulaim. Suatu ketika anak tsb bermain-main dg seekor burung lalu burung itu mati. Anak itu bersedih & menangis. Pada waktu itu, Rasulullah melewati dirinya maka beliau berkata kepada anak tsb utk menghibur & bermain dengannya: "Wahai Abu Umair! Apa yg dilakukan oleh anak burung pipit itu?".

Juga Anas bin Malik r.a. yg sejak usia 10 tahun diserahkan ibunya utk menjadi pembantu di rumah Rasulullah saw menyatakan bahwa ia tdk pernah dibentak, disuruh maupun & dimintai tolong utk membantu Rasul. Ia tdk pernah disalahkan atan sejenisnya. Ia adalah saksi betapa lembut & kasih sayangnya Rasulullah saw dlm kesehariannya.

Dengan kasih sayangnya yg sedemikian itulah, Rasulullah saw menghiasi hari-harinya kpd segenap keluarga & sahabat2nya. Hingga akhir hayatnya, Beliau menyebut "ummatii...ummatii...ummatii..." hingga tiga kali. Sebuah ungkapan kasih sayang di akhir hayat yg tdk pernah diucapkan oleh seorang manusiapun selain Beliau. Betapa cintanya pd ummatnya. Betapa Beliau saw memperhatikan & mencemaskan ummatnya nanti. Beliau cintai kita sampai akhir hayatnya. Beliau saw ingin ummatnya selalu bahagia, tentram, nyaman, damai, sejahtera, optimis, berhasil, kompak, taat beribadah, jgn ada yg sedih, jgn ada yg susah, dsb. Beliau ingin ummatnya selamat di dunia dan di akhirat kelak. Kasih sayang yg tak pernah berhenti dari seorang manusia pilihan Allah swt.

Ya, Rasul sayangi kita. Rasul sayang terhadap ummatnya, generasinya, penerus risalahnya. Maka, sayangilah generasi Islam sbgmn Rasulullah saw telah contohkan utk kita.

Inilah sebahagian kecil dari makna "shalawat" atas Nabi, yakni mengikuti sepak terjang perjuangan Nabi Muhammad saw dlm mempelajari, menegakkan & menyebarkan al-Islam dlm kehidupan.

Wallahua'lam


Lampiran:
Jika anak dibesarkan dalam celaan, ia belajar memaki.
JIka anak dibesarkan dalam permusuhan, ia belajar berkelahi.
JIka anak dibesarkan dalam ketakutan, ia belajar kuatir.
Jika anak dibesarkan dalam cemoohan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dalam penghinaan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dalam kecemburuan, ia belajar iri hati.
Jika anak dibesarkan dalam dipermalukan, ia belajar berdosa.
Jika anak dibesarkan dalam dorongan ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dalam toleransi, ia belajar bersabar.
Jika anak dibesarkan dalam pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dalam kasih, ia belajar menyayangi.
Jika anak dibesarkan dalam dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dalam penghargaan, ia belajar mempunyai tujuan hidup.
Jika anak dibesarkan dalam kesediaan untuk berbagi, ia belajar murah hati.
Jika anak dibesarkan dalam kebenaran, ia belajar jujur.
Jika anak dibesarkan dalam kebijaksanaan, ia belajar menjadi adil.
Jika anak dibesarkan dalam kebaikan dan pertimbangan, ia belajar hormat.
Jika anak dibesarkan dalam rasa aman, ia belajar punya kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dalam persahabatan ia belajar hidup dalam damai.
(Dorothy Law Nolte)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar