Minggu, 03 April 2011

Hadits-1

Hadits Nabi SAW dan Tutur Kata Ulama:

1v. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan,

"Seringkali seorang hamba mengucapkan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan dampaknya, padahal ternyata perkataan itu akan menjerumuskannya ke neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat" ( HR. Bukhari, no: 6477, dan Muslim, no: 7407)

2. Dari Abu Khurasy As-Sulamiy radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mendiamkan saudaranya selama 1 tahun, maka ia seakan-akan telah menumpahkan darahnya." (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

Dalam hadits lain disebutkan, "Dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau bersahabat dan bersaudara." (HR. Ahmad. Al-Albani berkata bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Muslim).

3. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi,
"Wahai hamba-Ku sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diriku dan Aku jadikan hal tersebut haram di antara kalian maka janganlah kalian saling berbuat zhalim." (HR. Muslim)

4. Nabi Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

"Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis".

Anas bin Mâlik radhiyallâhu'anhu –perawi hadits ini- mengatakan,

"Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan". (HR. Muslim, no. 2359)

Imam Nawawi rahimahullâh berkata, "Makna hadits ini, 'Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam surga pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat keburukan melebihi apa yang telah aku lihat di dalam neraka pada hari ini. Seandainya kamu melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku ketahui, semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti sangat takut, menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis".

(Syarh Muslim, no. 2359)

5. Humaid mengatakan, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, "Mengapa engkau menangis?" Beliau menjawab, "Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup." (Dari kitab Bir wasilah, karya Ibnul Jauzi)

6. Sufyan bin Uyainah mengatakan, "Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. (Diambil dari Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

7. Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, "Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya." Ibunya menjawab, "Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya." Abu Hurairah kemudian berkata, "Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil." Ibunya pun menjawab, "Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut." Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.

(Diambil dari kitab Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

8. Nabi saw. bersabda :
"Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan paling dekat majelisnya denganku pada Hari Kiamat adalah orang yang terbaik akhlaknya di antara kalian. "
(HR. At-Tirmidzi 1941)

9. Sebuah pengakuan yang begitu indah dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu sebagaimana telah disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya:

"Aku telah berkhidmat (menjadi pelayan) Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam selama 10 tahun, beliau tidak pernah mengatakan kepadaku "ah" dan tidak pernah bertanya jika aku telah melakukan sesuatu 'kenapa kamu melakukannya?', dan pada sesuatu yang tidak pernah aku lakukan beliau tidak mengatakan 'mengapa kamu tidak melakukannya?' Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya".

(HR. Al-Bukhari no. 3561/Muslim no. 2309)

10. Dari Ummi Salamah, dia berkata, saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda; "Tidak seorang hambapun yg tidak terkena musibah, kemudian dia membaca (do'a): "INNA LILLAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI'UUNA ALLAHUMMA AJURNI FII MUSHIBATII WAKHLUFLII KHOERAN MINHA", kecuali pasti Allah akan memberikan balasan serta akan diganti yg lebih baik daripada itu". (HR. Ahmad, Muslim: 461, Ibnu Majah: 1447).
Ucapan tarji' ialah ucapan: "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raa'jiuun = Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami akan kembali".
Ya Allah! Semoga Engaku memberi balasan kepada kami dari musibah yg kami terima. Dan semoga Engkau mengganti yg lebih baik dari musibah itu.
Betulkah bahwa Ummi Salamah mendapat balasan pengganti yg lebih baik dari Abu Salamah? Dalam keterangan yg lain diterangkan bahwa Ummu Salamah pernah menceritakan setelah membaca do'a tsb, datanglah Rasulullah SAW untuk melamar Ummu Salamah. Yg. jelas, Allah mengganti yg lebih baik, lepas Abu Salamah, datanglah Rasulullah SAW sebagai penggantinya. (Kutipan buku Pemeliharaan Jenazah oleh ustadz KHE. Abdullah, alm).

11. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang senantiasa mencari kesalahan seorang muslim, maka Allah ta'ala akan senantiasa mencari kesalahannya pula, sehingga akan terbuka kesalahannya meskipun (tersembunyi) di dalam mulut unta (kendaraan) nya." (HR. Tirmidzi)

12. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Dulu ada seorang pedagang biasa memberikan pinjaman kepada orang-orang. Ketika melihat ada yang kesulitan, dia berkata pada budaknya: Maafkanlah dia (artinya bebaskan utangnya). Semoga Allah memberi ampunan pada kita. Semoga Allah pun memberi ampunan padanya." (HR. Bukhari no. 2078)

13. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) kecuali kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian, sesuatu yang apabila kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai, yaitu sebarkanlah salam di antara sesama kalian." (HR. Muslim).

Umar bin Khattab mengatakan, "Salah satu sebab yang akan memurnikan rasa suka saudaramu kepadamu ialah kamu selalu berusaha memulai mengucapkan salam kepadanya apabila bersua. Hendaknya kamu memanggilnya dengan panggilan yang paling disukai olehnya. Kamu lapangkan tempat duduk untuk menyambut kehadirannya."

14. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Dibukakan pintu-pintu surga pada hari Senin dan Kamis, maka diampuni setiap hamba yang muslim selama tidak berbuat syirik kepada Allah, kecuali seseorang yang terdapat kebencian pada saudaranya, lalu dikatakan: Perhatikanlah oleh kalian sampai mereka berdua berdamai. Perhatikanlah oleh kalian sampai mereka berdua berdamai." (HR. Muslim).

15. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wa sallam bersabda:

"Tahukah kalian apa itu ghibah?", Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau bersabda, "Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka." Lalu ditanyakan kepada beliau, "Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?" Maka beliau bersabda, "Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahinya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya (berbuat buhtan)." (HR. Muslim. 4/2001. Dinukil dari Nashihatii lin Nisaa', hal. 26)

16. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah ta'ala menolong seorang hamba selagi hamba tersebut menolong sesamanya." Beliau juga bersabda: "Barang siapa menolong saudaranya yang membutuhkan maka Allah ta'ala akan menolongnya." (HR. Muslim)

17. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang senantiasa mencari kesalahan seorang muslim, maka Allah ta'ala akan senantiasa mencari kesalahannya pula, sehingga akan terbuka kesalahannya meskipun (tersembunyi) di dalam mulut unta (kendaraan) nya." (HR. Tirmidzi)

18. Sifat pemaaf merupakan sebab untuk meraih kedudukan yg tinggi & derajat yg mulia. Dengan sikap inilah akan didapatkan ketenangan hati, manisnya iman, dan kemuliaan diri. Nabi saw. bersabda, "Tidaklah Allah akan menambahkan kpd seorang hamba dg sifat pemaaf yg dimilikinya kecuali kemuliaan." (HR. Muslim).

19. Sifat tidak suka mencela menunjukkan kemuliaan diri seseorang dan ketinggian cita-cita seseorang. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang bijak, "Kemuliaan diri yaitu ketika kamu dapat menanggung hal-hal yang tidak menyenangkanmu sebagaimana kamu sanggup menghadapi hal-hal yang memuliakanmu."

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang pergi berangkat ke masjid pada waktu menjelang subuh (waktu sahur, suasana masih gelap). Ketika itu dia berangkat dengan disertai seorang pengawal. Ketika melewati suatu jalan mereka berdua berpapasan dengan seorang lelaki yang tidur di tengah jalan, sehingga Umar pun terpeleset karena tersandung tubuhnya. Maka lelaki itu pun berkata kepada Umar, "Kamu ini orang gila ya?". Umar pun menjawab, "Bukan."Maka sang pengawal pun merasa geram terhadap sang lelaki. Lantas Umar berkata kepadanya, "Ada apa memangnya! Dia hanya bertanya kepadaku, 'Apakah kamu gila?' lalu kujawab bahwa aku bukan orang gila."

20. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah kalian saling hasad (iri), janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi (saling mendiamkan/ menghajr). Jadilah kalian bersaudara, wahai hamba Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

21. Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya". "Kami sudah malu duhai Rasulullah", jawab para sahabat. Beliau kemudian bersabda,
"Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan sebenar-benarnya." (HR. Tirmidzi dll, dinilai hasan karena adanya riwayat-riwayat lain yang menguatkannya oleh Al Albani dalam Shahih Jami' Shaghir no. 935)

22. B'Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :

"Inginkah aku kabarkan kepadamu orang yang diselamatkan dari api neraka, atau dijauhkan api neraka darinya? Yaitu setiap orang yang ramah, lemah-lembut dan murah hati". [HR Tirmidzi]

23. Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu 'Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka'bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung,

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.
Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu berkata, "Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?" Ibnu Umar menjawab, "Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan." (Adabul Mufrad no. 11. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih secara sanad)

24. Mujahid mengatakan, "Tidak sepantasnya seorang anak menahan tangan kedua orang tuanya yang ingin memukulnya. Begitu juga tidak termasuk sikap berbakti adalah seorang anak memandang kedua orang tuanya dengan pandangan yang tajam. Barangsiapa yang membuat kedua orang tuanya sedih, berarti dia telah mendurhakai keduanya."

25. Seseorang berkata kepada Ibrahim bin Adham Rahimahullah:

"Allah jalla jalaluhu telah berfirman dalam kitab-Nya:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

'Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa kalian.' (Al-Mu'min : 60)

Sedangkan kami telah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sekian lama namun tidak juga Allah jalla jalaluhu kabulkan doa kami."

Maka beliaupun menjawab: "Hati kalian telah mati karena sepuluh perkara:

Pertama: Kalian mengenal Allah jalla jalaluhu namun tidak menunaikan hak-Nya.
Kedua: Kalian membaca Kitabullah namun tidak mengamalkannya.
Ketiga: Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam namun meninggalkan Sunnahnya.
Keempat: Kalian mengaku memusuhi setan namun sepakat dengannya
Kelima: Kalian katakan kami cinta jannah (surga) namun tidak beramal untuk itu.
Keenam: Kalian katakan kami takut an-naar (neraka) namun menggadaikan diri-diri kalian kepadanya (an-naar).
Ketujuh: Kalian katakan bahwa sesungguhnya kematian itu pasti (terjadi) namun kalian tidak bersiap-siap untuknya.
Kedelapan: Kalian sibuk dengan aib saudara-saudara kalian dan mencampakkan aib-aib diri sendiri
Kesembilan: Kalian memakan nikmat Rabb kalian namun tidak mensyukurinya.
Kesepuluh: Kalian mengubur mayit-mayit kalian dan tidak mengambil pelajaran darinya.

(Al-Hilyah, jilid 8 hal. 15-16)

26. 'Umar bin Abdul 'Aziz rahimahullah berkata, "Telah beruntung orang yang dijaga dari hawa nafsu,
kemarahan, dan ketamakan."

Ja'far bin Muhammad rahimahullah berkata, "Kemarahan itu adalah kunci dari segala macam
kejelekan."

Dikatakan kepada Ibnul Mubarak rahimahullah, "Himpunkanlah untuk kami akhlak-akhlak baik
dalam satu kata!" Beliau rahimahullah mengatakan, "Menjauhi marah." (Jami'ul 'Ulum wal Hikam,
hal. 372, 379)

27. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan dari bahaya menggangu tetangga.

"Tidak akan masuk surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya". [HR Muslim]

28. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, "Para ulama mengatakan bahwa malu hakikatnya adalah akhlak yang mengantar seseorang untuk meninggalkan kejelekan dan menghalanginya mengurangi hak-hak orang lain."

29. Salah seorang ulama salaf berkata, "Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini." Maka ada yang bertanya, "Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?" Ulama ini menjawab, "Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya."

Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab "Igaatsatul lahfaan" (1/72).

30. Imam Ibnu Al Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa tanda kebahagiaan itu ada 3 hal. 3 hal tersebut adalah bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika mendapatkan cobaan dan bertaubat ketika melakukan kesalahan. Beliau mengatakan: Sesungguhnya 3 hal ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda keberuntungannya di dunia dan di akhirat.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar