Senin, 11 April 2011

membangun rumah tangga

MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG HARMONIS

Oleh : Ayi Rohidin

Bismillaahirrahmaanirahiim.

Andai harmonis diartikan tentram, serasi, indah, mempesona dan akhirnya memberi kebahagiaan, maka sebuah rumah tangga yang harmonis adalah rumah tangga yang berisi individu yang membarikan ketentraman, keserasian, keindahan, kekaguman dan berujung pada kebahagiaan.

Masalahnya adalah, perjalanan rumah tangga tidak selamanya datar sesuai dugaan maupun harapan seluruh individu seisis rumah itu. Liku perjalanan, naik turunnya keadaan serta pahit getirnya rumah tangga sedikit demi sedikit mulai terkuak seiring usia rumah tangga yang dijalani. Lantas, apa yang bisa membuat perjalanan rumah tangga tetap utuh menghadang ragam persoalan yang “seakan tak akan pernah lepas” dari sebuah keluarga?

Kiranya, berikut ini mudah-mudahan dapat memberikan solusi untuk memperoleh rumah tangga yang harmonis sesuai harapan semua orang yang berkeluarga.

1. Dasar

a. Tujuan

Periksalah tujuan anda. Untuk apa anda menikah? Renungkanlah dengan sungguh-sungguh, lalu jawablah dengan jujur…

Seyogyanya anda mempunyai satu tujuan saja, yaitu khusnul khatimah.

Kenapa mesti khusnul khathimah yang menjadi tujuan?

b. Niat

Apa niat anda menikah? Andai bukan ibadah, maka beranikah anda mengakui bahwa selama ini hidup anda mubadzir?

2. Isi

a. Sakinah (tempat kembali); Semua penghuni rumah selalu rindu ingin segera berkumpul di rumah, karena suasana rumah yang menyenangkan, menentramkan dan menggelorakan keceriaan.

b. Mawaddah (kasih sayang berdasarkan atas ketertarikan secara fisik); Harum, mempesona, rapih, bersih, segar, ramah, senyum dan gelora keceriaan adalah unsur-unsur yang dapat menambah dan mempertahankan ketertarikan terhadap pasangan dan keharmonisan seisi keluarga.

c. Rahmah (kasih sayang atas keadaan yang menimpa seisi rumah); Suka duka, bahagia maupun menderita, tidak menjadi bagian yang menggoyahkan keutuhan keluarga. Rahmah menjadi ujung dari segala keadaan. Kasih sayang tidak hanya hadir di saat situasi bahagia dan ceria namun di setiap keadaan, rahmah meliputi perjalanan rumah tangga.

3. Penyakit Rumah tangga

a. Sombong dan takabbur; Sombong = merasa diri paling bisa, paling berjasa, paling hebat, paling benar, paling pintar dsb. yang serupa dengan itu yang kemudian diperlihatkan secara nyata. Sedangkan takabbur = sifat serupa dengan kesombongan namun tidak ditampakkan dalam kehidupan. Salah satu wujud dari kesombongan/ ketakabburan adalah marah dan sakit hati. Kedua hal ini harus dibuang dalam kehidupan keluarga.

b. Sakwa sangka (dhonni); persepsi, dugaan, perkiraan merupakan bagian dari sakwa sangka yang dapat menjauhkan kehangatan hubungan dan komunikasi. Keceriaan dan keterbukaan tidak menjadi warna yang indah, namun keduanya menjadi semu tak menusuk ke relung hati. Keikhlasan budi bahasa dan perilaku sangat terganggu oleh suasana pikiran yang menyelimuti perasaan dan kegundahan hati.

c. Lupa terhadap Syaithan; Inilah penyakit paling berbahaya tatkala kita lupa akan sepak terjang makhluk yang satu ini. Dialah makhluk yang tidak pernah berhenti sepanjang hayat kita untuk membelokkan keistiqomahan niat-niat baik yang dimiliki hamba Alloh yang beriman. Selama 24 jam penuh dia mengintai kita untuk membuat kita terhina di hadapan ilahi, sementara 24 jam penuh kita lupakan usaha-usaha kreatif dari makhluk yang nyata-nyata diusir dari Syurga.

4. Hiasan Rumah Tangga

a. Sholat; Bukan hanya sholat wajib, tapi juga yang sunnat. Bukan hanya 2 jam dalam sehari semalam tapi mendirikan sholat selama 24 jam sehingga sholat mempribadi disepanjang waktu.

b. Al-Quran; Al-Quran bukan sekedar bacaan, tapi ia merupakan bukti kerinduan seorang hamba kepada Alloh swt. Al-Quran bukan sekedar verbalistis yang dipuji dan dipuja, disimpan sebagai sesuatu yang istimewa, namun ia adalah inspirasi, pedoman hidup, penawar duka, dan kalam ilahi yang dipelihara Alloh swt.

5. Anugrah dalam rumah tangga

Ada dua hal yang senantiasa dibela, didamba dan dipandang dapat memberikan kebahagiaan oleh mereka yang berkeluarga, yakni:

a. Anak; Tidak punya dan punya anak merupakan dua hal yang sama, yakni resah, susah dan cape’. Sehingga Rasul saw menyatakan bahwa yang disebut anak adalah seseorang yang memberikan keberuntungan ukhrowi (akhirat) kepada orangtua. Bahkan Islam menyatakan bahwa seorang anak menjadi tidak berarti jika tidak beriman kepada Alloh swt. (ingat kisah Kan’an putra Nabi Nuh a.s.).

b. Harta; Tidak ada ukuran yang pasti akan cukupnya harta. Kapan dan berapa? Apalagi jika hawa nafsu tak terkendali untuk mengejar dan menumpuk harta, seolah kebanggaan dan keberhargaan seseorang hanya bergantung kepada seberapa banyak harta yang dimilikinya. Benarkah harta menjadi begitu penting sehingga martabat seseorang tergeser oleh benda? Sehingga orang lebih menghormati benda daripada manusianya? Mana harta yang benar-benar dapat menyelamatkan manusia dari yaumiddin (addin ~ addaen = ditagihnya hutang).

Jadi, bagaimana sikap kita untuk kedua hal tersebut di atas?

Sungguh, keluarga harmonis adalah idaman setiap insan. Mungkin kitapun telah mengetahui ilmu tentang hal ini, namun pada saat kita dihadapkan pada persoalan dalam keluarga, seringkali kita lupakan ridha Alloh yang hanya dapat diperoleh jika kita dapat menyelesaikannya dengan benar. Semoga kita dapat berupaya keras untuk memulai kebaikan di dalam keluarga kita sendiri, sebab kebernilaian seseorang di hadapan Alloh tidak dapat diperoleh dari orang lain.

Ya Alloh, hamba bersyukur kepada-MU atas anugrah-anugrah yang telah ENGKAU berikan pada hidup hamba. Ya Alloh, lindungilah perjalanan kami... Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar