Senin, 11 April 2011

Profil insan tafaquh fid dien di luar pesantren

Profil insan tafaquh fid dien di luar pesantren


Manusia memperoleh atribut dan posisi yang luar biasa dibandingkan dengan makhluk ciptaan Alloh lainnya dan Alloh, Dzat Maha Pencipta, mempercayakan alam raya dan isinya ini kepada manusia untuk dipelihara dan dijaga keseimbangannya demi kesejahteraan manusia. Tak ayal, DIA kemudian memberikan pedoman pemeliharaan dan penjagaan itu dalam kitab-NYA yang dijelaskan dan dicontohkan oleh para utusan-NYA.

عَـنْ عَبْدِالله بنُ عَمْرُبْنُ الْعَاص رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولُ الله ص. يَقُولُ: اِنَّ اللهَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ أنْـتِزَاعًا يَـنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَـادِ، وَلَكِن يَقْبِضُ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى اَذَالَمْ يُوْقِ عَالِمًا، اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا، فَـأَفْـتَوْابِغَيْرِعِلْمٍ، فَضَلُّوْا وَاَضَلُّوْا. (رواه البخارى)

Artinya : Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash r.a., dia berkata: Rasululloh saw. bersabda, “Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu agama dengan cara mencabutnya dari hati manusia, tetapi Alloh mencabut dengan cara mewafatkan para ulama, sehingga apabila sudah tidak ada lagi ulama yang tersisa maka orang-orang akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin yang apabila ditanya mereka akan menjawab tanpa dasar ilmu agama, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan semua orang.” (H.R. Al-Bukhari)

Uraian di atas mengikat seluruh manusia tanpa kecuali. Perbedaan bangsa, negara, warna kulit, bahasa, status sosial, dan di manapun adanya semuanya berasal dari yang satu, Alloh Yang Maha Agung, semua wajib taat terhadap tuntunan-NYA, dan semuanya wajib mengikuti perilaku yang dicontohkan para rasul-NYA.

Adapun pedoman dan tuntunan Alloh sepanjang keberadaan manusia di muka bumi ini sesuai dengan kebutuhan zaman para utusan-NYA yang secara “estapet” disempurnakan oleh pedoman dan utusan yang datang kemudian. Dan akhir dari pedoman dan tuntunan Alloh SWT itu adalah al-Quran yang dijelaskan dan dicontohkan oleh Muhammad bin Abdullah saw. Oleh karena itu, seharusnya seluruh manusia yang hidup setelah rasul terakhir wajib tunduk dan taat pada tuntunan al-Quran dan contoh Rasul saw (sunnah Nabi Muhammad saw.), sekali lagi TANPA KECUALI, yang kemudian dinobatkan dalam sebuah kata, Islam.

Sepeninggal Rasul saw. tercinta dan para pengikutnya setianya, Islam mengalami perkembangan pemikiran dan perluasan wilayah hingga ke Negara kita, Indonesia. Dalam kontek keindoneisaan dan kekinian, Islam menjadi agama dengan pemeluk terbanyak, 85% dari 230 juta penduduknya. Tentu sebuah potensi yang besar bagi perkembangan Islam yang diperhitungkan dunia, terutama mereka yang memusuhi Islam.

عَـنْ اَنَسٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله ص.: اِنَّ مِنْ اَشْـرَطِ السَـاعَةِ: اَن يُّرْفَعَ الْعِلْمُ ويَسْـبُتُ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبُ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرُ الزَنَـا. (رواه البخارى)

Artinya : Diriwayatkan dari Anas r.a., dia berkata: Rasululloh saw. pernah bersabda, ”Sebagian tanda-tanda akan terjadinya kiamat adalah : 1) Hilangnya ilmu dan maraknya kebodohan tentang Islam, 2) Terbiasanya mengkonsumsi minuman yang memabukkan, dan 3) Perzinahan dianggap biasa.” (H.R. Al-Bukhari)

Sejarah telah mencatat bahwa perkembangan Islam di tanah air dibawa oleh pendidikan di surau di Sumatera Barat dan pesantren di Jawa sejak abad ke-18 M. awal. Dan sampai saat ini, awal abad ke-21 M., khususnya di Jawa, pesantren masih dipandang sebagai satu-satunya tempat yang memberikan pengajaran ilmu-ilmu al-Islam. Tradisi keilmuan dalam bidang keagamaan masih menjadi dominasi pesantren.

Permasalahannya adalah, apakah belajar al-Islam (tafaquh fid dien) dapat dilakukan di luar lembaga ini? Untuk menjawabnya tidaklah sesederhana pertanyaannya. Karena bagaimanapun, pesantren telah membuktikan dirinya sebagai lembaga/ tempat pembelajaran al-Islam, sampai hari ini. Namun demikian, jikapun kaum muslimin Indonesia akan mempelajari Islam di pesantren, apakah akan tertampung? Belum lagi dengan potensi setiap individu yang sangat beragam dalam ilmu-ilmu umum, di mana Islam teramat menghargai akan keleluasaan penggalian dan penerapan ilmu-ilmu tersebut.

عَـنْ مُـعَـاوِيَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولُ الله ص. يَقُولُ: مَن يُّرِدِاللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقَّههُ فِى الدِيْنِ، وَاِنَّمَـااَنَاقَـاسِـمٌ وَاللّـهِ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ اْلاُمَّـةُ قَـائِمَـةً عَلَى اَمْرِالله لاَيَضُرُّهُـمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِى اَمْرُالله. (رواه البخارى)

Artinya : Diriwayatkan dari Mu’awiyah r.a., dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang dikehendaki oleh Alloh mendapat kebaikan maka Alloh memberinya pemahaman tentang Islam. Aku hanyalah orang yang menyampaikan, dan Alloh-lah yang memberi petunjuk. Ketahuilah bahwa umatku ini (mukmin sejati) akan tetap melaksanakan perintah Alloh (agama Alloh) dan mereka tidak terkalahkan oleh orang-orang yang menentang mereka sampai tibanya hari kiamat.” (H.R. Al-Bukhori)

Realitas ini memaksa kita untuk menjembatani tafaquh fid dien di era modern ini. Dapat saja dikatakan bahwa orang boleh memperoleh pengetahuan tentang Islam dengan berbagai cara, baik outodidak (belajar mandiri) maupun melalui kelompok. Namun demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pengetahuannya itu tidak ke luar dari koridor pemahaman yang murni sesuai semangat al-Quran dan Sunnah Rasul saw. Menurut hemat kami, hal-hal tersebut antara lain:

1. Memahami hakikat manusia

Tafaquh fiddien di luar pesantren memerlukan pengertian akan manusia secara mendalam. Hal ini penting, setidak-tidaknya untuk lebih mempertajam akan kesamaan fungsi, potensi dan kedudukan manusia. Penggalian tentang hal tersebut dapat dilakukan dengan banyak hal, terlebih dunia ilmu pengetahuan kian terbuka dengan teknologi informatika yang berkembang pesat. Adapun Al-Quran menyampaikan beberapa aspek yang berhubungan dengan manusia, antara lain :

a. Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa =2 ayat

b. Macam-macam jiwa manusia

1) Nafs ammarah (jiwa yang selalu menyuruh pada kejahatan) = 2 ayat

2) Nafs lawwamah (jiwa yang selalu menyesali) = 1 ayat

3) Nafs muthmainnah (jiwa yang tenang) = 1 ayat

c. Sifat Manusia

1) Ketergesaan manusia = 4 ayat

2) Keluh-kesah manusia = 8 ayat

3) Manusia tamak dan bakhil = 11 ayat

4) Manusia keras kepala = 53 ayat

5) Manusia diciptakan pada bentuk yang terbaik 9 ayat

6) Kekufuran manusia akan nikmat Allah = 124 ayat

7) Ilmu manusia sedikit = 37 ayat

8) Kelemahan manusia = 40 ayat

d. Karunia Allah atas manusia

1) Para rasul diutus untuk memberi petunjuk = 179 ayat

2) Manusia makhluk yang dimuliakan = 15 ayat

3) Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan manusia = 29 ayat

4) Falak diciptakan untuk kepentingan manusia = 18 ayat

5) Rezeki manusia dijamin Allah = 50 ayat

6) Bumi disiapkan untuk tempat tinggal manusia = 53 ayat

7) Karunia bintang gemintang = 6 ayat

8) Manusia memanfaatkan hewan = 19 ayat

9) Angin sebagai berita gembira bagi manusia = 3 ayat

10) Besarnya karunia Allah pada manusia = 116 ayat

2. Memiliki pembimbing/ nara sumber/ pakar agama yang mumpuni

Akal sebagai alat penggalian ilmu, termasuk dalam memahami Islam, memiliki keleluasaan berekspresi dan bereksperimen. Pendapat seseorang yang telah mempelajari Islam di tempat selain pesantren, merupakan hak seseorang yang memperkaya wacana keberagamaan. Namun demikian, seyogyanya orang itu mengkonfirmasi, mengklarifikasi dan mengkomunikasikan pendapatnya itu kepada seorang ‘alim yang sangat menjaga kemurnian risalah Islam. Hal ini penting, karena ra’yu tidak harus dimatikan tapi juga bukan satu-satunya penentu dalam penetapan sebuah pendapat, apalagi jika pendapat itu berkaitan dengan hukum agama. Atinya, akal tidak dikekang tapi ia dipimpin dan tunduk pada al-Quran dan Sunnah Rasul saw.

3. Bersikap terbuka

Menemukan keindahan dan keagungan risalah Islam dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi seseorang. Kepuasan yang boleh jadi membanggakannya. Namun pada saat yang bersamaan, sangat boleh jadi penemuannya itu menutup ruang dan pendapat yang lebih benar daripadanya. Bahkan mungkin, secara tidak disadari dia berhenti untuk menggali keseluruhan risalah Islam. Oleh karena itu, keterbukaan bukan berarti tanpa sikap, namun justru sebuah potensi untuk memperkaya keilmuan. Mengkomunikasikan, mensosialisasikan dan menguji ilmu untuk menemukan pengetahuan yang benar (shahih) adalah merupakan sikap terbuka yang membawa ke arah ‘izzul islam wal muslimiin.

عَـنْ عَبْدِالله بنُ مَسْعُودِرَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَلَ النَّبِيُّ ص.: لاَ حَسَدَ اِلاَّاثْنَـتَيْنِ: رَجُلٌ اَتَآالله مَالاً فَسَلّطَ عَلَى هَلَكـَتِهِ فِى الْـحَقِّ، رَجُلٌ اَتَآالله الْحِـكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّـمُهَا. (رواه البخارى)

Artinya : Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a., dia berkata: Nabi pernah bersabda, “Tidak boleh di iri kecuali dua: 1) orang yang diberi harta banyak oleh Alloh lalu ia membelanjakannya sesuai dengan ajaran Islam, 2) orang yang diberi hikmah (sikap dan perilaku yang bijak) oleh Alloh, kemudian dia menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengajarkannya kepada orang lain.” (H.R. Al-Bukhari)

4. Taat

Taat pada dataran awal adalah dimilikinya kecenderungan hati untuk mau diatur dan dihukumi oleh al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Sikap yang seyogyanya menjadi kepribadian ini akan mampu menyeleksi penyimpangan fikir/ pendapat dari kegiatan mempelajari al-Islam.

5. Ikhlas

Inilah kunci sejati dari keselamatan manusia di mata Robbul ‘Izzati. Tiada mungkin seorang ikhlas yang mengharap keridhaan Alloh swt. mempelajari risalah Islam bukan untuk kepentingan agamanya. Tidak mungkin gegabah menjelaskan al-Islam.

6. Hidup Berjama’ah

Hasil penelaahan dan pemahaman bersama memungkinkan dapat melahirkan pendapat yang kuat yang mendorong amal sosial yang pada gilirannya sangat dimungkinkan akan lahirnya kekuatan sosial

7. Sadar akan tantangan

Seorang yang tafaquh fiddien seyogyanya menyadari atas tantangan yang dihadapi oleh umat Islam. Mencermati gerak dan siasat yang memusuhi Islam dan umat Islam. Islam dipusuhi agar menjadi rusak dan dijauhi pemeluknya, sedangkan umatnya dipusuhi agar tidak berkembang dan berada di bawah kendalinya. Apakah globalisasi merupakan produk yang memaksa umat manusia berada dalam sebuah kendali? Apakah ia termasuk ke dalam kategori حـتّى تتّبع ملّـتهم? Atau keberadaan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang memberikan pemahaman terhadap al-Islam secara bebas, fulgar dan mengedapankan ro’yu yang cenderung tidak terkendali serta mencemaskan kemurnian risalah tauhid ini. Ada apa gerangan di balik JIL? Belum lagi perpecahan intern umat Islam sebagai warisan penjajahan Belanda yang telah nyata sangat ampuh melemahkan kekuatan umat Islam. Nahdatul Ulama (NU), Persatuan Islam (PERSIS), MUHAMMADIYAH, AL-IRSYAD, Persatuan Umat Islam (PUI), dsb. berjalanmasing-masing dan cenderung hanya memikirkan dan membela organisasinya sendiri. Oleh karena itu, mempelajari perkembangan sejarah Islam di Indonesia dan mencermati perkembangan global, tidak dapat dihindari untuk dapat menghidupkan dan mengembalikan kejayaan Islam dan umat Islam.

8. Semangat beramal atas ilmu (Islam) yang telah diketahuinya

Pertanyaan mendasar yang juga harus hadir adalah apakah anak cucu kita di masa yang akan datang masih akan menjadi seorang muslim? Nabi Ayub a.s. bertanya kepada anaknya, ”Maa ta’buduuna mimba’di...?”

9. Menjaga amanah untuk memperoleh jariyah

Tafaquh fiddien dalam kerangka ini mengembalikan segala aktivitasnya untuk memperoleh dan memberi jariyah. Dalam hal memberikan jariyah kepada orangtua, guru dan semua fihak yang telah dan pernah memberikan pembinaan, pendidikan dan arahan beramal soleh, mudah-mudahan mereka telah dan terus memperolehnya sepanjang aktivitas kita sesuai dengan apa yang telah mereka tanamkan. Namun, memperoleh jariyah... nampaknya masih perlu perenungan mendalam, karena sangat bergantung kepada orang lain. Apakah kita telah ”memberi apapun kepada siapapun?” Apakah segala upaya yang telah kita dilakukan telah cukup mengantarkan kita untuk memperoleh jariyah...

Wal hasil, fenomena yang hadir di tengah-tengah kehidupan kita sungguh sangat komplek yang memerlukan keterbukaan yang terkendali dalam menentukan sikap atas langkah yang dilakukan fihak lain. Kompleksitas kehidupan modern menghadirkan kehausan atas ilmu keislaman yang nota bene semakin termajinalkan oleh budaya modern. Untuk sebagian kecil, dahaga itu menumbuhkan kesadaran dan motivasi untuk mulai menekuni dan mempelajari risalah Islam. Tentu saja hal itu bisa dilakukan di berbagai tempat namun tetap harus memiliki komitmen yang kuat untuk memperoleh kebenaran Islam secara murni sesuai dengan kedua pedomannya, Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Wallohua’lam.

Mudah-mudahan Alloh swt. melindungi dan membimbing akal dan hati kita untuk tetap berada di dalam jalan yang diridhai-NYA. Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar