Senin, 11 April 2011

pendidikan sebelum lahir

At-Tarbiyyatu qoblal wiladah (pendidikan dalam kandungan)


A. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan

Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. (Q.S. Al-Mursalaat : 21 – 23)

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Q.S. Hajj : 5)

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Ali-Imron : 6)

Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. (Q.S. Ar-Ro’du : 8)

Mengetahui asal muasal keberadaan kita (manusia) diharapkan dapat menumbuhkan:

1. Kesadaran akan kelemahan, keterbatasan dan ketakberdayaan manusia;

2. Kesadaran akan kebergantungan, kepentingan dan keperluan terhadap fihak lain;

3. Keyakinan akan keberadaan, pemeliharaan dan kekuasaan Alloh SWT.; dan

4. Keberserahan atas seluruh ketentuan dan takdir Alloh SWT.

B. Potensi manusia

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S. An-Nahl : 78)

Mengetahui potensi yang dimiliki manusia dapat menghadirkan:

1. Kenal akan kelemahan dan kekuatan yang terdapat pada setiap individu;

2. Kenal akan alat untuk mencari kebenaran;

3. Tindakan untuk memelihara alat yang Alloh berikan;

4. Menemukan keyakinan akan kekuasaan dan keesaan Alloh SWT.

5. Kenal kepada Alloh SWT.

C. Aspek yang wajib dipelihara oleh manusia

¨ Berharap keshalehan dan taat beragama

(Ingatlah), ketika istri Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat (di Baitulmakdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (Q.S. Ali-Imran : 35)

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (Q.S. Ash-shaaffaat : 100)

D. Pendidikan pada anak

¨ Q.S. Lukman : 12 - 19

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar".

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.


Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

(Lukman berkata): "Hai anakku, sesugguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (19)

Beberapa hal yang dapat diambil dari cara mendidik anak menurut ayat di atas antara lain:

1. Menumbuhkan aspek syukur terhadap apapun yang Alloh berikan;

1. Sikap Syukur merupakan sikap di mana seseorang senantiasa menerima ketentuan yang Alloh berikan dan kemudian memanfaatkannya seoptimal mungkin untuk mendatangkan manfaat bagi klehidupan manusia.

2. Sikap seperti ini menjauhkan seseorang dari kebiasaan protes, putus asa, sedih, menyesal dan caci maki.

3. Sikap syukur diwujudkan antara lain oleh kreativitas dan mencari solusi dalam memanfaatkan apapun yang Alloh anugrahkan. Seseorang yang bersyukur tidak akan larut dalam penyesalan dan ketidakpuasan berbentuk amarah.

2. Pelihara aqidah;

1. Aqidah merupakan titik pemberangkatan suatu tindakan. Kebernilaian seluruh aktivitas ditentukan oleh aqidah yang benar. Aqidah islamiyah merupakan titik pemberangkatan yang seyogyanya menjadi landasan seorang muslim.

2. Dalam kehidupan dewasa ini, memelihara aqidah islamiyah mendapatkan tantangan yang sangat berat.

3. Orangtua wajib menjaga kemurnian aqidah putra putrinya, sehingga ia memiliki kesempatan memperoleh paha jariyah dari anak-anaknya.

3. Menyadarkan akan pengorbanan yang orangtua lakukan;

1. Anak harus ditumbuhkan pengertian akan pengorbanan dan kesulitan yang dihadapi orang tua dalam merawat dan mendidik amanah Alloh SWT ini.

2. Orang tua perlu mengendalikan kasih sayangnya sehingga tidak kebablasan dan tanpa perhitungan.

4. Mendidik dalam pemanfaatan waktu yang diberikan;

1. Berikan pembiasaan dalam memanfaatan waktu sehingga seluruh waktu dapat mendatangkan manfaat untuk diri maupun untuk lingkungannya.

2. Tumbuhkan suasana disiplin melalui keteladanan dalam memanfatkan waktu.

5. Membiasakan hubungan dan pergaulan yang baik;

1. Ciptakan iklim yang kondusif sehingga memudahkan lahirnya sikap dan perilaku yang baik, baik melalui lisan maupun perlakuan orang tua kepada anak.

6. Menghidupkan situasi saling menghargai;

1. Perlakukan manusia sesuai dengan sikap apa yang diharapkan kita dari orang lain.

2. Berikan pujian, hadiah maupun hukuman yang membangun kepribadian dan keunggulan pribadi anak.

7. Mendidik untuk melaksanakan dan mendirikan sholat;

1. Pembiasaan melaksanakan sholat.

8. Membiasakan perbuatan-perbuatan yang baik;

1. Berikan kebiasaan untuk berbuat kebajikan seperti menolong, memberi, menyantuni orang lain maupun melalui perilaku lainnya.

2. Tampilkan kehidupan keilmuan seperti membaca, mendengar dsb.

9. Menumbuhkan sikap sabar;

1. Tunjukkan suasana kerja keras, pantang menyerah dan sungguh-sungguh dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi.

2. Tumbuhkan ketawakalan

10. Menumbuhkan sikap TIDAK sombong, angkuh dan ingin menang sendiri;

1. Tumbuhkan situasi demokratis, terbuka, mesra dan kasih sayang.

2. Munculkan kebersamaan, kekompakkan dan kerjasama.

3. Pembiasaan berdoa dan keberserahan.

4. Bersahaja dan penih khidmat, hormat dan rendah hati.

11. Menganjurkan perbuatan Sopan dan Santun.

1. Sopan dalam tindakan, etis dan menjunjung moral bertanggung jawab dengan sungguh-sungguh.

2. Santun dalam ucapan, benar dan “darehdeh” handap asor.

3. Lembut disertai hati ikhlas dan kasih sayang.

E. Pendidikan anak dalam kandungan

1. Menjaga ketentraman.

Menjaga dan membuat tentram ibu hamil harus diutamakan mengingat pengaruhnya terhadap aliran darah ibu yang secara langsung berhubungan dengan anak dalam kandungannya. Upaya untuk menjaga dan membuat ketentraman tersebut harus dilakukan terutama ibu hamil sendiri ditunjang oleh lingkungannya, baik berupa membaca Al-Quran, sholat sunnat, berdo’a, dzikir maupun aktivitas lainnya.

2. Berkomunikasi dengan janin

Berkomunikasi dengan janin merupakan bentuk dialog langsung antara ibu/ lingkungan dengan janin yang “boleh jadi” memberikan suasana batin dan ikatan tertentu antara jani dengan ligkungannya.

3. Meyakini amanah

Bahwa anak merupakan amanah Alloh yang hadir dan dihadirkan oleh kekuatan dan kekuasaan Alloh SWT. Sehingga, keberserahan atas lahirnya janin mengindikasikan ketauhidan keluarga kepada Khaliknya. Ikhtiar yang dilakukan ibu/ keluarga mengindikasikan atas harapan akan nilai pahala dari sisi-Nya.

Wallohua’lam

Tambahan:

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Q.S. Al-Kahfi : 76)


Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). (Q.S. Saba’ : 37)

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Q.S. Al-Ahqaf : 15)

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). (Q.S. Al-Mukminuun : 13)

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Lukman : 34)

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, (Q.S. Al-Qiyamah : 37 – 38)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar